InfoSAWIT, JAKARTA — PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) terus menunjukkan performa gemilang sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Efisiensi operasional dan inovasi yang konsisten berhasil mendorong peningkatan penjualan serta memperkuat fundamental bisnis perusahaan kelapa sawit ini.
Dalam keterangan pers yang diterima InfoSAWIT, Senin (10/11/2025), manajemen CSRA menyebutkan bahwa kinerja keuangan hingga kuartal III/2025 tumbuh signifikan. Pendapatan perusahaan mencapai Rp1,33 triliun, naik tajam dari Rp758,78 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan produksi CPO dan kernel, seiring beroperasinya tiga pabrik kelapa sawit milik perusahaan secara penuh, serta peningkatan harga jual rata-rata produk sawit. Tercatat, harga jual CPO naik sekitar 15,7% secara tahunan (YoY), sementara harga tandan buah segar (TBS) dan kernel meningkat masing-masing 24,3% dan 69,4% YoY.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode I-November 2025 Tertinggi Rp 3.358,25 Per Kg
“Peningkatan ini merupakan hasil dari kombinasi strategi efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, dan manajemen risiko yang disiplin,” tulis manajemen CSRA dalam keterangannya.
Produktivitas Kebun Meningkat
Perusahaan memperkirakan tren pertumbuhan produksi akan berlanjut dalam jangka panjang, seiring sebagian besar perkebunan telah memasuki usia produktif utama. CSRA juga secara aktif melaksanakan program peremajaan (replanting) berkelanjutan dengan menggunakan varietas benih unggul untuk menjaga daya saing di masa depan.
Upaya peningkatan hasil tandan buah segar juga dilakukan melalui strategi pemupukan terukur dan penerapan praktik agronomi yang baik (Good Agricultural Practices). Hasilnya, produktivitas TBS meningkat menjadi 14,1 ton per hektare, naik dari 13,6 ton per hektare pada periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltara Periode I November 2025 Tertinggi Rp 3.278,57 per Kg
“Pendekatan agronomi yang disiplin menjadi kunci dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan jangka panjang operasi kami,” ungkap manajemen CSRA.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat kerangka manajemen risiko terpadu di seluruh lini operasi. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko keuangan maupun non-keuangan, untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan bisnis di tengah fluktuasi pasar.
Laba Naik Signifikan
Peningkatan penjualan dan pengendalian biaya yang ketat membuat laba kotor CSRA naik 38,4% menjadi Rp479,26 miliar pada 9M25, dibandingkan Rp346,38 miliar pada 9M24. Meski margin kotor turun menjadi 35,9% dari 45,6%, pertumbuhan laba tetap kuat berkat volume penjualan yang meningkat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 7-13 November 2025 Turun Rp 124,51 per Kg
Kinerja ini turut mendorong laba usaha meningkat 43,9% menjadi Rp302,42 miliar, dengan margin 22,7%, sementara pada periode yang sama tahun lalu tercatat 27,7%.
Di sisi bawah, laba bersih perusahaan melonjak 70,6% menjadi Rp213,92 miliar, dibandingkan Rp125,39 miliar pada 9M24 — capaian yang menunjukkan efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan manajemen.
“Kami terus berkomitmen menjaga momentum positif ini dengan mengedepankan efisiensi, inovasi, dan tanggung jawab lingkungan, lantas produktivitas yang tinggi menjadi landasan penting bagi pertumbuhan jangka panjang dan penciptaan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tandas Seman Sendjaja, Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA. (T2)
