InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Perjalanan karier Sangeetha Umakanthan tidak pernah berjalan lurus. Ia pernah memulai langkah profesionalnya sebagai calon akuntan di Australia dan Malaysia—sebuah profesi yang segera ia sadari bukan jalan hidupnya.
Dari titik itu, Sangeetha kemudian menemukan panggilannya di dunia komunikasi. Pilihan tersebut membawanya berkelana ke berbagai wilayah dunia, dari Timur Tengah hingga Afrika, mengerjakan berbagai proyek strategis lintas sektor.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya kembali ke Malaysia sebagai Deputy Director of Communications di Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), organisasi global yang mendorong praktik sawit berkelanjutan.
Bagi Sangeetha, kembali ke tanah air untuk bekerja di sektor sawit bukan sekadar langkah karier, tetapi juga perjalanan pulang ke akar masa kecilnya.
Dari Bandara Qatar hingga Inovator Afrika
Sebagai konsultan komunikasi, Sangeetha pernah menangani berbagai proyek besar dan beragam. Ia terlibat dalam penyusunan strategi komunikasi untuk Hamad International Airport di Qatar, bekerja dengan para inovator dan startup di Afrika, hingga menulis untuk Boston Consulting Group.
Pengalaman global itu semakin luas ketika ia dipercaya menjadi konsultan bagi Presidensi Côte d’Ivoire, yang memberinya kesempatan memahami lebih dalam persoalan di sektor kakao negara tersebut.
Di sana, ia melihat langsung berbagai tantangan yang juga akrab di industri komoditas global, pendapatan petani yang rendah, deforestasi, hingga isu pekerja anak. “Di situ saya mulai benar-benar memahami hubungan antara kemiskinan dan keberlanjutan, serta ketimpangan yang masih luas. Saya ingin berperan dalam mengatasi masalah tersebut,” ujarnya, dilansir InfoSAWIT dari RSPO, Selasa (10/3/2026).
Kesadaran itulah yang akhirnya mendorongnya mencari peran yang lebih fokus pada pembangunan berkelanjutan—hingga akhirnya bergabung dengan RSPO.
Meski kariernya melintasi banyak negara, hubungan Sangeetha dengan industri sawit sebenarnya telah terjalin sejak kecil. Sebagai warga Malaysia, ia tumbuh dengan kenangan bermain bersama sepupu-sepupunya di kawasan perkebunan kelapa sawit. Pengalaman itu membuat sawit terasa sangat dekat dengan kehidupannya.
BACA JUGA: Indonesia Ajukan Penangguhan Konsesi ke WTO, Menyusul Respons UE Tak Patuh Putusan Sawit
Karena itulah, bekerja di RSPO terasa seperti lingkaran perjalanan yang akhirnya kembali ke titik awal.
Tantangan Besar: Miskonsepsi Sawit
Di peran barunya, Sangeetha melihat tantangan komunikasi terbesar dalam sektor sawit berkelanjutan adalah kurangnya pemahaman publik.
Menurutnya, banyak persepsi negatif tentang industri sawit yang terus berkembang di media arus utama, meski terdapat berbagai data yang menunjukkan bahwa produksi sawit dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tren deforestasi yang terkait dengan sawit terus menurun. “Yang membuat frustrasi adalah ketika miskonsepsi itu terus menyebar, padahal ada banyak bukti bahwa sawit bisa diproduksi secara berkelanjutan,” katanya.
Namun ia juga melihat peluang besar di era media digital dan jurnalisme warga yang membuka banyak saluran baru untuk menyampaikan cerita yang lebih seimbang tentang sawit.
