InfoSAWIT, JAKARTA – Pasokan minyak sawit global pada 2025 dinilai relatif longgar, namun lemahnya permintaan dan memanasnya konflik dagang membuat pasar minyak nabati—khususnya di China—bergerak dalam volatilitas tinggi, dengan peran spekulasi dan kebijakan bioenergi kian dominan.
Pasar minyak nabati global tengah bergerak dalam lanskap yang kian kompleks. Dari pemulihan produksi sawit Asia Tenggara hingga ketegangan dagang lintas negara, dinamika tersebut membentuk arah baru industri minyak nabati, khususnya di China. Hal itu mengemuka dalam paparan Ryan Chen, China CNF Business Director – Oils & Oilseeds, Cargill Investments (China) Ltd.
Dari sisi pasokan, produksi minyak sawit dunia pada 2025 diperkirakan pulih signifikan. Total produksi global diproyeksikan mencapai sekitar 70,6 juta ton, naik sekitar 4,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia dan Malaysia menjadi penopang utama. Produksi Malaysia tahun ini diperkirakan mendekati 20 juta ton, sementara realisasi aktual diyakini berada di kisaran 19,4–19,9 juta ton.
BACA JUGA: Indonesia Ajukan Penangguhan Konsesi ke WTO, Menyusul Respons UE Tak Patuh Putusan Sawit
“Artinya, tahun ini dunia memiliki pasokan sawit yang relatif memadai. Dari sisi supply, tidak ada cerita kekurangan,” ujar Ryan.
Namun, cerita pasar tidak berhenti pada pasokan. Tema besar lain yang membayangi 2025 adalah gangguan arus perdagangan kedelai Amerika Serikat dan kanola Kanada akibat konflik dagang yang berkepanjangan. China, sebagai konsumen utama, menerapkan tarif impor yang sangat tinggi. Tarif kedelai AS sempat melonjak dari 3% pada awal tahun menjadi 138% pada April, praktis menghentikan ekspor kedelai AS ke China. Meski kini tarif kembali ke kisaran 13%, kedelai Brasil tetap jauh lebih kompetitif dengan tarif hanya 3%.
Situasi serupa terjadi pada kanola. Tarif impor biji kanola dari Kanada melonjak hingga 85%, sementara tarif minyak kanola bahkan mencapai 109%. Akibatnya, arus kanola dan produk turunannya dari Kanada ke China hampir terhenti total. (T2)
