GAPKI: Produksi Sawit 2025 Naik 7,2%, Industri Hadapi Tantangan Tata Kelola dan Tekanan Global

oleh -3.246 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Konferensi Pers dan Buka Puasa Bersama GAPKI, yang dihadiri InfoSAWIT, Kamis (12/3/2026).

Selain itu, industri juga menghadapi tumpang tindih regulasi, mulai dari pengaturan Fasilitas Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM), pengaturan pabrik kelapa sawit (PKS), pemanfaatan devisa hasil ekspor (DHE), hingga berbagai pajak dan retribusi daerah.

 

Percepatan Sertifikasi ISPO

Dalam aspek keberlanjutan, pemerintah terus mendorong percepatan implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standar keberlanjutan nasional yang diharapkan semakin diterima secara global.

Hadi menyebutkan pelaku industri juga aktif melakukan sosialisasi serta klinik ISPO bagi anggota guna mempercepat proses sertifikasi.

BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Turun 3,9% pada Februari 2026, Produksi dan Ekspor Turut Melemah

“Kami bersama pemerintah juga terus melakukan kampanye positif mengenai praktik sawit berkelanjutan agar penerimaan pasar global terhadap produk sawit Indonesia semakin baik,” katanya.

 

Tantangan Global Industri Sawit

Di tingkat global, industri sawit masih menghadapi berbagai tekanan, terutama terkait isu lingkungan dan keberlanjutan. Komoditas ini kerap dikaitkan dengan isu deforestasi dan kehilangan keanekaragaman hayati sehingga memicu regulasi ketat di sejumlah negara tujuan ekspor.

Salah satunya adalah regulasi Uni Eropa yang menuntut ketelusuran rantai pasok hingga tingkat kebun serta berbagai persyaratan sertifikasi keberlanjutan.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 11 – 17 Maret 2026 Naik Rp183,02 per Kg

Selain itu, terdapat pula hambatan perdagangan tarif dan non-tarif, termasuk kebijakan diskriminatif terhadap biodiesel berbasis sawit serta standar teknis seperti batas maksimum kontaminan 3-MCPD dan glycidyl ester.

Industri sawit juga menghadapi persaingan dengan minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, yang turut mempengaruhi volatilitas harga minyak nabati global.

 

Prospek Industri Sawit 2026

Memasuki 2026, produksi minyak sawit diperkirakan masih akan tumbuh namun relatif terbatas, yakni kurang dari 5%. Sentimen positif datang dari areal replanting yang mulai memasuki fase produksi.

BACA JUGA: Importir India Tahan Pembelian Minyak Nabati, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pengiriman

Namun demikian, beberapa faktor berpotensi menekan pertumbuhan produksi, seperti keterlambatan program PSR, potensi El Nino pada pertengahan 2026, serta berbagai tantangan tata kelola sektor sawit.

“Konsumsi domestik pada 2026 diperkirakan relatif sama dengan 2025 karena pemerintah tidak menaikkan target bauran biodiesel yang tetap berada pada B40,” kata Hadi.

Sementara itu, volume ekspor diperkirakan juga tidak akan jauh berbeda dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

BACA JUGA: Rekayasa Antioksidan dalam Memperpanjang Umur Simpan Minyak Goreng Sawit

Untuk harga, minyak sawit diprediksi masih berada pada level tinggi dalam jangka pendek.

“Harga minyak sawit hingga kuartal pertama 2026 diperkirakan berada pada kisaran USD 1.050 hingga USD 1.125 per ton,” pungkas Hadi. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com