Selain itu, industri juga menghadapi tumpang tindih regulasi, mulai dari pengaturan Fasilitas Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM), pengaturan pabrik kelapa sawit (PKS), pemanfaatan devisa hasil ekspor (DHE), hingga berbagai pajak dan retribusi daerah.
Percepatan Sertifikasi ISPO
Dalam aspek keberlanjutan, pemerintah terus mendorong percepatan implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standar keberlanjutan nasional yang diharapkan semakin diterima secara global.
Hadi menyebutkan pelaku industri juga aktif melakukan sosialisasi serta klinik ISPO bagi anggota guna mempercepat proses sertifikasi.
BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Turun 3,9% pada Februari 2026, Produksi dan Ekspor Turut Melemah
“Kami bersama pemerintah juga terus melakukan kampanye positif mengenai praktik sawit berkelanjutan agar penerimaan pasar global terhadap produk sawit Indonesia semakin baik,” katanya.
Tantangan Global Industri Sawit
Di tingkat global, industri sawit masih menghadapi berbagai tekanan, terutama terkait isu lingkungan dan keberlanjutan. Komoditas ini kerap dikaitkan dengan isu deforestasi dan kehilangan keanekaragaman hayati sehingga memicu regulasi ketat di sejumlah negara tujuan ekspor.
Salah satunya adalah regulasi Uni Eropa yang menuntut ketelusuran rantai pasok hingga tingkat kebun serta berbagai persyaratan sertifikasi keberlanjutan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 11 – 17 Maret 2026 Naik Rp183,02 per Kg
Selain itu, terdapat pula hambatan perdagangan tarif dan non-tarif, termasuk kebijakan diskriminatif terhadap biodiesel berbasis sawit serta standar teknis seperti batas maksimum kontaminan 3-MCPD dan glycidyl ester.
Industri sawit juga menghadapi persaingan dengan minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, yang turut mempengaruhi volatilitas harga minyak nabati global.
Prospek Industri Sawit 2026
Memasuki 2026, produksi minyak sawit diperkirakan masih akan tumbuh namun relatif terbatas, yakni kurang dari 5%. Sentimen positif datang dari areal replanting yang mulai memasuki fase produksi.
BACA JUGA: Importir India Tahan Pembelian Minyak Nabati, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pengiriman
Namun demikian, beberapa faktor berpotensi menekan pertumbuhan produksi, seperti keterlambatan program PSR, potensi El Nino pada pertengahan 2026, serta berbagai tantangan tata kelola sektor sawit.
“Konsumsi domestik pada 2026 diperkirakan relatif sama dengan 2025 karena pemerintah tidak menaikkan target bauran biodiesel yang tetap berada pada B40,” kata Hadi.
Sementara itu, volume ekspor diperkirakan juga tidak akan jauh berbeda dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Rekayasa Antioksidan dalam Memperpanjang Umur Simpan Minyak Goreng Sawit
Untuk harga, minyak sawit diprediksi masih berada pada level tinggi dalam jangka pendek.
“Harga minyak sawit hingga kuartal pertama 2026 diperkirakan berada pada kisaran USD 1.050 hingga USD 1.125 per ton,” pungkas Hadi. (T2)
