“Penelitian ini menghasilkan hubungan generik antara hasil tandan buah segar dan akumulasi unsur hara, sehingga memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat untuk memahami kebutuhan nutrisi tanaman kelapa sawit,” ungkap peneliti dalam laporan tersebut.
Selain itu, studi ini juga memperhitungkan periode perkembangan tandan yang panjang pada kelapa sawit serta fase-fase kritis yang menentukan produktivitas tanaman.
Melalui analisis dataset yang luas, peneliti berhasil menghitung Nutrient Internal Efficiencies (NIE) dan Nutrient Harvest Indices (NHI) pada tanaman kelapa sawit.
Perhitungan tersebut dinilai penting karena mengisi kesenjangan pengetahuan dalam fisiologi tanaman sawit, terutama terkait efisiensi penggunaan nutrisi oleh tanaman.
“Hubungan antara hasil TBS dan akumulasi nutrisi ini dapat digunakan sebagai titik awal untuk menentukan kebutuhan hara tanaman kelapa sawit secara lebih akurat,” ungkap manajemen dalam laporan tersebut.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pemupukan yang lebih presisi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus menjaga efisiensi penggunaan pupuk di sektor industri sawit global. (T2)
