InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Perusahaan perkebunan sawit Malaysia, SD Guthrie Bhd, menunjukkan optimisme bahwa kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) akan mampu mengimbangi tekanan biaya produksi, seiring masih tingginya harga energi akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam risetnya, CIMB Securities Sdn Bhd mengungkapkan bahwa SD Guthrie menghadapi kenaikan harga solar (diesel), khususnya di operasional Papua Nugini, serta potensi keterlambatan pengiriman minyak sawit ke kawasan Timur Tengah. Meski demikian, eksposur perusahaan terhadap pasar Timur Tengah dinilai relatif terbatas.
“Manajemen menyebutkan bahwa biaya pupuk untuk tahun 2026 telah dikunci, dan saat ini tengah dilakukan pembahasan dengan pemasok guna memastikan pengiriman tepat waktu,” tulis CIMB Securities dalam laporan tersebut dikutip InfoSAWIT dari New Straits Times, Rabu (18/3/2026).
BACA JUGA: Mekanisasi Perkebunan Sawit Buka Peluang Baru bagi Pekerja Perempuan
Secara struktur biaya, pupuk menyumbang sekitar 27–28% dari total biaya langsung, sementara diesel berkontribusi kurang dari 5%.
Namun demikian, perusahaan mengingatkan bahwa operasional di Indonesia dan Papua berpotensi terdampak apabila pasokan diesel terganggu akibat konflik yang berkepanjangan.
Di sisi lain, prospek harga CPO dinilai tetap positif. “Manajemen meyakini dampak kenaikan biaya kemungkinan besar akan tertutupi oleh harga CPO yang lebih tinggi, seiring harga energi yang tinggi dapat mendorong negara produsen utama meningkatkan mandat biodiesel demi ketahanan energi, sehingga menopang permintaan minyak sawit,” ungkap manajemen dalam laporan tersebut.
BACA JUGA: BPS Kaltim Catat 219 Perusahaan Perkebunan Sawit Beroperasi di Kalimantan Timur pada 2025
Selain itu, SD Guthrie juga melaporkan telah melakukan kontrak penjualan forward sebesar 42% dari produksi minyak sawit Malaysia pada harga sekitar RM4.400 per ton.
Meski prospek dinilai cukup stabil, CIMB Securities mempertahankan rekomendasi “Hold” terhadap saham SD Guthrie, mencerminkan sikap hati-hati di tengah dinamika pasar energi global dan potensi risiko operasional. (T2)
