InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah tekanan global terhadap industri kelapa sawit, Indonesia terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat fondasi keberlanjutan sektor ini, terutama dari sisi sumber daya genetik (SDG).
Senior Vice President Business Development PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Edy Suprianto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini Indonesia telah memiliki puluhan varietas unggul kelapa sawit hasil pengembangan riset nasional.
“Sejauh ini, kita sudah memiliki 83 varietas kelapa sawit. Dari jumlah itu, 76 merupakan hasil persilangan Dura x Pisifera, enam varietas klon, satu semi-klon, serta 12 varietas moderat resisten terhadap Ganoderma dan empat varietas tahan kekeringan,” ungkap Edy.
BACA JUGA: Produktivitas Sawit RI Tertahan, GAPKI Soroti Keterbatasan Genetik dan Risiko Biologis
Fondasi Kuat untuk Produktivitas dan Ketahanan
Menurut Edy, capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan hasil dari perjalanan panjang riset dan pemuliaan tanaman yang dilakukan secara konsisten oleh para peneliti Indonesia.
Ia menegaskan bahwa penguatan SDG menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan industri, mulai dari serangan penyakit hingga dampak perubahan iklim.
“Ini adalah fondasi utama. Tanpa sumber daya genetik yang kuat, sulit bagi kita untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan tanaman,” jelasnya.
Jejak Riset dari Dura Deli hingga Ekspedisi Global
Edy menjelaskan, riset genetik sawit Indonesia berakar dari material Dura Deli yang berasal dari Sumatra Timur, yang hingga kini menjadi salah satu basis utama pengembangan varietas unggul dunia.
Sejak 2008, RPN bersama konsorsium riset nasional memperluas eksplorasi sumber genetik ke berbagai negara asal sawit (center of origin).
Eksplorasi tersebut mencakup Cameroon pada 2008 dengan 103 aksesi, Angola pada 2010 dengan 127 aksesi, Ekuador pada 2019 dengan 12 aksesi, serta ekspedisi terbaru di Tanzania pada 2024 yang berhasil mengumpulkan sekitar 100 aksesi baru.
“Setiap wilayah memiliki karakter genetik yang berbeda. Ada yang unggul dalam ketahanan terhadap penyakit, ada pula yang adaptif terhadap kondisi kekeringan ekstrem,” ujar Edy.
Kejar Ketertinggalan dari Malaysia
Meski demikian, Edy mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal koleksi sumber daya genetik dibandingkan negara pesaing seperti Malaysia.
Saat ini, Indonesia baru memiliki koleksi dari tiga pusat asal sawit, sementara Malaysia telah mengoleksi dari sekitar 18 wilayah.
