InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Setelah dua tahun ekspansi, produksi minyak sawit global diperkirakan mulai melambat pada 2026. Di tengah penurunan output Indonesia dan stagnasi Malaysia, pasar minyak laurik diproyeksikan bergerak menuju fase keseimbangan—bukan lagi kelimpahan.
Dalam paparan di ajang 37th Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference & Exhibition (POC 2026), Senior Analyst Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menyoroti perubahan arah produksi sawit di dua produsen utama dunia: Indonesia dan Malaysia.
Malaysia, yang sempat mencatat tren kenaikan produksi sejak 2022, diperkirakan mengalami koreksi pada 2026. Setelah mencapai 20,28 juta ton pada 2025—naik hampir 5%—produksi diproyeksikan turun menjadi sekitar 20 juta ton pada 2026, atau terkoreksi 1,4%.
BACA JUGA: Harta Karun di Bawah Sawit, Peluang REE Senilai RM747 Miliar Mengemuka
Meski demikian, dari sisi pasokan, tekanan tidak serta-merta muncul. Varqa mencatat bahwa stok awal yang relatif tinggi akan menjadi penyangga pasar domestik Malaysia.
Di sisi lain, produksi crude palm kernel oil (CPKO) Malaysia juga diperkirakan menurun sekitar 2% atau setara 50 ribu ton pada 2026. Namun, kondisi ini masih dianggap terkendali mengingat posisi stok yang cukup kuat di awal tahun.
Berbeda dengan Malaysia, Indonesia justru menghadapi tekanan yang lebih besar. Setelah melonjak menjadi 51 juta ton pada 2025—naik lebih dari 6%—produksi sawit Indonesia diproyeksikan turun menjadi 49 juta ton pada 2026, atau terkoreksi sekitar 4%.
BACA JUGA: Aparat Gabungan Amankan Aset PTPN di Natar, Antisipasi Pencurian TBS Sawit
Penurunan ini turut berdampak pada produksi CPKO Indonesia yang diperkirakan turun lebih tajam, sekitar 4% atau 180 ribu ton. Ini menjadi faktor penting dalam dinamika pasar minyak laurik global, mengingat Indonesia merupakan pemasok utama.
Namun, gambaran pasar tidak sepenuhnya suram. Dari kawasan lain, Filipina justru menunjukkan pemulihan signifikan. Produksi kelapa negara tersebut diperkirakan melonjak 23% pada 2026, atau bertambah sekitar 270 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini mendorong ekspor minyak kelapa Filipina yang diproyeksikan naik 20% menjadi 1,2 juta ton—kembali ke rata-rata lima tahun terakhir. Meski demikian, nilai ekspor diperkirakan menurun seiring harga yang lebih rendah dibandingkan rata-rata 2025 yang mencapai US$2.300 per ton FOB.
BACA JUGA: Kinerja Moncer Emiten Sawit Berlanjut, Namun Prospek 2026 Diprediksi Moderat
Dalam konteks harga, Varqa juga mencatat perubahan pada spread antara coconut oil (CNO) dan palm kernel oil (PKO). Selisih harga yang sebelumnya cukup lebar kini mulai menyempit. Tren ini diperkirakan berlanjut pada paruh pertama 2026 dengan penyempitan tambahan sekitar US$100–200 per ton, sebelum berpotensi melebar kembali di paruh kedua tahun.
Secara keseluruhan, dinamika ini mengarah pada satu kesimpulan utama. ““Tahun 2026 membawa keseimbangan, bukan kelimpahan, bagi pasar laurik.” ujar Varqa.
