B50 dan Trilema Pangan, Energi, dan Ekspor

oleh -228 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Dr Veritia Sukarta, Peneliti Ekonomi & Manajemen Sawit, serta Pemimpin Redaksi Kabar SDGs.

InfoSAWIT, JAKARTA – Peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menandai babak baru kebijakan energi nasional, 9 Juli 2026. Bahkan dalam acara peluncuran tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah membuka wacana menuju B60 pada 2028. Bagi sebagian kalangan, langkah ini adalah simbol kemandirian energi Indonesia. Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sampai di mana kelapa sawit mampu menopang kebutuhan energi tanpa mengorbankan pangan dan devisa ekspor?

Inilah trilema sawit Indonesia: menyeimbangkan kebutuhan pangan, energi, dan ekspor dalam satu komoditas yang sama.

Sawit memiliki posisi unik dalam perekonomian nasional. Industri ini menghidupi jutaan pekerja dan petani, menyumbang devisa puluhan miliar dolar setiap tahun, sekaligus menjadi andalan program transisi energi melalui biodiesel.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 15-21 Juli 2026 Naik Rp. 31,1 per Kg

Dari sekitar 16 juta ha perkebunan sawit nasional, sekitar 42 persen dikelola petani dan sisanya perusahaan. Industri ini juga menjadi salah satu sektor agroindustri dengan rantai nilai terlengkap, mulai dari pangan, oleokimia, biomaterial hingga bioenergi.

Berdasarkan statistik produksi Gapki Januari-April 2026, konsumsi sawit untuk biodiesel, 4,4 juta ton, sudah melebihi konsumsi untuk pangan dan oleokimia, 4,2 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa persaingan penggunaan bahan baku semakin nyata.

Persoalan semakin menarik ketika melihat karakteristik biofuel yang sedang didorong pemerintah. Biodiesel berbasis sawit, sebagaimana juga bioetanol dari tebu, singkong, atau sorgum, termasuk kategori biofuel generasi pertama.

BACA JUGA: Mengembalikan Koperasi kepada Rakyat, Bukan kepada Proyek Negara

Generasi pertama menggunakan tanaman pangan yang dikonsumsi manusia. Karena itu muncul istilah dilema “food versus fuel”. Ketika bahan baku yang sama diperebutkan antara kebutuhan pangan dan energi, maka harga dan ketersediaannya akan saling mempengaruhi. EU sejak RED II (Renewable Energy Directive) secara bertahap mengurangi biofuel generasi pertama karena dianggap risiko tinggi ILUC (Indirect Land Use Change).

Sebaliknya, biofuel generasi kedua memanfaatkan limbah atau bahan non-pangan seperti minyak jelantah (used cooking oil, UCO), limbah lainnya, dan residu biomassa. UCO ini yang banyak dipakai untuk pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Sementara biofuel generasi ketiga berasal dari sumber yang lebih maju seperti mikroalga.

Dari perspektif ketahanan energi, B50 menawarkan manfaat yang jelas. Semakin tinggi campuran biodiesel, semakin besar pengurangan impor minyak diesel dan semakin kecil ketergantungan terhadap gejolak pasar minyak global. Ini karena selisih harga FAME (B100) dengan minyak diesel murni dipenuhi dari Pungutan Ekspor sawit.

BACA JUGA: GAPKI Perluas Pasar Sawit ke Eurasia, Teken MoU Strategis dengan Asosiasi Minyak Nabati Rusia

Dalam era ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga energi, kebijakan ini memiliki nilai strategis yang tidak dapat diabaikan. Selain itu, peningkatan konsumsi biodiesel juga menciptakan permintaan domestik yang relatif stabil bagi tandan buah segar (TBS), yang pada akhirnya dapat menopang pendapatan petani sawit.

Namun energi tidak boleh dilihat secara terpisah dari dua kepentingan lainnya, yakni pangan dan ekspor. Kajian Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia menunjukkan bahwa implementasi B50 berpotensi mengurangi nilai ekspor sawit hingga sekitar Rp 190 triliun, lebih besar dibandingkan potensi penghematan devisa impor solar yang diperkirakan mencapai Rp 172 triliun.

Di saat yang sama, meningkatnya kebutuhan sawit untuk biodiesel berpotensi mendorong kenaikan harga minyak goreng domestik hingga sekitar 9%. Dengan kata lain, manfaat energi harus ditimbang secara hati-hati terhadap dampak pada daya beli masyarakat serta devisa. Disinilah dilema menjadi trilema.

 


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com