Koperasi Karyawan: Pilar yang Terlupakan dalam Membangun Kesejahteraan Pekerja

oleh -424 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Sumarjono Saragih merupakan Chairman & Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil) dan anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan.

Karena itu, persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada konsep koperasi, melainkan pada tata kelolanya.

Hingga kini, koperasi masih sering dipersepsikan sebagai organisasi dengan administrasi yang konvensional, pelayanan yang terbatas, tata kelola yang belum modern, bahkan rentan terhadap konflik internal akibat lemahnya akuntabilitas. Stigma semacam inilah yang perlahan mengikis kepercayaan pekerja terhadap koperasi.

Jika koperasi karyawan ingin bangkit kembali, maka transformasi harus dimulai dari tiga fondasi utama.

BACA JUGA: Sinar Mas Agribusiness Perkuat Implementasi PSR untuk Tingkatkan Produktivitas dan Keberlanjutan Petani Sawit

Pertama, keberpihakan pemberi kerja. Dukungan perusahaan tidak cukup diwujudkan melalui penyediaan ruang usaha semata, melainkan melalui komitmen menjadikan koperasi sebagai bagian dari strategi peningkatan kesejahteraan pekerja. Pembinaan pengurus, pengembangan talenta, hingga pembukaan peluang kemitraan bisnis perlu dibangun secara bertahap.

Kedua, membangun kembali kepercayaan anggota. Pengurus harus dipilih berdasarkan kompetensi dan integritas, bukan sekadar popularitas. Tata kelola harus dijalankan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan. Koperasi hanya akan berkembang apabila anggota merasa memiliki sekaligus merasakan manfaatnya secara nyata.

Ketiga, melakukan transformasi digital. Digitalisasi bukan hanya mengganti pembukuan manual menjadi elektronik. Yang lebih penting adalah membangun sistem tata kelola yang cepat, transparan, dan akuntabel. Setiap anggota harus memiliki akses secara real time terhadap informasi yang menjadi haknya. Dengan cara itulah koperasi dapat menjadi semakin kredibel sekaligus relevan bagi generasi pekerja masa kini.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Selasa (14/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat

Bagi industri sawit, gagasan ini memiliki arti yang jauh lebih strategis. Sekitar lima juta pekerja langsung menggantungkan hidupnya pada sektor perkebunan yang tersebar di sekitar 16.000 desa di Indonesia. Sebagian besar berada di kawasan dengan akses layanan ekonomi yang masih terbatas.

Dalam konteks tersebut, koperasi karyawan bukan sekadar wadah ekonomi internal perusahaan. Ia berpotensi menjadi pilar baru kesejahteraan pekerja sekaligus mitra strategis Koperasi Desa Merah Putih dalam memperkuat perekonomian desa-desa sekitar perkebunan.

Gagasan itu pun bukan sebatas teori. Bersama salah satu perusahaan perkebunan sawit, revitalisasi koperasi tengah dijalankan melalui penguatan tata kelola, pembangunan kembali kepercayaan anggota, serta transformasi digital. Tujuannya sederhana: menjadikan koperasi sebagai organisasi modern yang benar-benar memberikan manfaat bagi pekerja. Sebab ketika kepercayaan tumbuh, koperasi berkembang. Dan ketika koperasi berkembang, kesejahteraan pekerja ikut meningkat.

BACA JUGA: BPDP dan Ditjenbun Bersama PT Citra Widya Education, Tingkatkan Kompetensi 155 Petani Sawit Morowali Utara Lewat Pelatihan GAP di Palu

Pada akhirnya, kesejahteraan pekerja tidak cukup dibangun melalui kenaikan upah ataupun perluasan cakupan jaminan sosial semata. Kesejahteraan membutuhkan sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Di dalam ekosistem itulah koperasi karyawan layak ditempatkan sebagai salah satu pilar penting pembangunan kesejahteraan pekerja Indonesia.

Apabila Koperasi Desa Merah Putih dihadirkan untuk menggerakkan ekonomi desa, maka koperasi karyawan sudah waktunya dihidupkan kembali sebagai penggerak kesejahteraan pekerja. Ketika keduanya tumbuh berdampingan, yang dibangun bukan hanya ekonomi yang lebih inklusif, tetapi juga fondasi menuju Asta Cita dan Indonesia Emas 2045.

Bagi industri sawit, inilah makna People-Centric Indonesia Sustainable Palm Oil: keberlanjutan yang tidak berhenti pada produktivitas dan perlindungan lingkungan, tetapi juga memastikan bahwa pekerja sebagai pelaku utama industri memperoleh kesejahteraan yang semakin baik. (*)

Penulis: Sumarjono Saragih merupakan Chairman & Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil) dan anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini penulis. Seluruh pandangan, analisis, dan kesimpulan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap maupun kebijakan redaksi InfoSAWIT.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com