Angkutan CPO KAI Naik 18 Persen hingga Juli 2026, Didorong Implementasi Biodiesel B50

oleh -786 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan angkutan komoditas perkebunan sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

InfoSAWIT, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan angkutan komoditas perkebunan sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh tingginya distribusi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), seiring menguatnya kebutuhan industri dan implementasi program mandatori Biodiesel B50.

Berdasarkan data KAI, volume angkutan perkebunan selama periode 1 Januari hingga 31 Juli 2026 mencapai 374.098 ton, meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 317.026 ton. Dengan demikian, terjadi tambahan volume angkutan sebanyak 57.072 ton.

Kinerja positif juga terlihat pada capaian bulanan. Sepanjang Juli 2026, KAI mengangkut 51.741 ton komoditas perkebunan atau naik 24,52 persen dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 41.551 ton, bertambah sekitar 10.190 ton.

BACA JUGA: POPSI Tolak Rencana Moratorium PKS Baru di Jambi, Berpotensi Rugikan Petani Sawit

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan mayoritas komoditas perkebunan yang diangkut melalui moda kereta api merupakan CPO. Menurutnya, layanan logistik berbasis rel memiliki keunggulan dalam mendukung distribusi komoditas sawit berkat kapasitas angkut yang besar, jadwal perjalanan yang teratur, serta sistem operasional yang efisien.

“Peningkatan sebesar 18 persen menunjukkan kebutuhan terhadap layanan logistik perkebunan berbasis kereta api semakin kuat. KAI menjaga kelancaran distribusi CPO sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk industri bioenergi yang kini memiliki peran strategis dalam kebijakan ketahanan energi nasional,” ujar Anne dilansir InfoSAWIT dari Rakyat Merdeka, Minggu (9/8/2026).

Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan CPO tidak terlepas dari implementasi program mandatori Biodiesel B50 yang mulai diberlakukan pemerintah pada 1 Juli 2026 dan secara resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi nasional.

BACA JUGA: DHE SDA 50 Persen, GAPKI Minta Kebijakan Tetap Jaga Likuiditas dan Daya Saing Sawit

Dalam kebijakan tersebut, bahan bakar B50 terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50 persen solar. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan implementasi program ini membutuhkan biodiesel sekitar 16,7–18 juta kiloliter, dengan kebutuhan CPO mencapai 15,2–16,3 juta ton.

Program B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menciptakan sekitar 2,1 juta lapangan kerja, sekaligus menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.

Menurut Anne, peningkatan kebutuhan CPO untuk industri biodiesel turut memperluas pasar domestik bagi sektor perkebunan nasional. Dalam rantai pasok tersebut, moda transportasi kereta api memiliki peran penting untuk memastikan distribusi bahan baku dari sentra produksi menuju fasilitas pengolahan berlangsung aman, efisien, dan berkelanjutan.

BACA JUGA: Peremajaan Sawit Sungai Bahaur Estate, Buktikan Lahan Marginal Mampu Hasilkan Produktivitas Sawit Tinggi

Perkembangan kebijakan biodiesel Indonesia juga menjadi perhatian pasar global. Dalam laporan Oilseeds: World Markets and Trade edisi Juli 2026, United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan produksi minyak sawit dunia pada tahun pemasaran 2026/2027 mencapai 81,44 juta ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia diperkirakan menyumbang 47,5 juta ton atau sekitar 58,3 persen dari total produksi global.

Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah faktor yang akan memengaruhi pasar minyak sawit dunia, mulai dari implementasi program B50 di Indonesia, potensi fenomena El Niño, hingga fluktuasi harga minyak bumi yang berdampak terhadap dinamika pasar minyak nabati global.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah, KAI juga mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada armada berbasis diesel sejak 1 Juli 2026. Implementasi dilakukan pada lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui berbagai pengujian, meliputi performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi, kondisi filter, pelumas, hingga sistem bahan bakar.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Jumat (7/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah

“KAI memiliki peran pada dua bagian penting dalam ekosistem B50. Melalui layanan angkutan perkebunan, KAI membantu kelancaran distribusi komoditas sawit. Pada kegiatan operasional, KAI menggunakan B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan sarana,” jelas Anne.

Ke depan, KAI berkomitmen terus meningkatkan kapasitas angkutan komoditas perkebunan melalui penguatan kesiapan sarana, optimalisasi fasilitas bongkar muat, serta peningkatan koordinasi dengan pelanggan dan para pemangku kepentingan. Upaya tersebut diharapkan semakin memperkuat rantai pasok industri sawit, mendukung hilirisasi, serta mempercepat terwujudnya ketahanan energi nasional.

“Kereta api menghubungkan kegiatan produksi, pengolahan, dan kebutuhan energi nasional. Pertumbuhan volume angkutan perkebunan menjadi peluang untuk memperkuat peran logistik perkeretaapian dalam mendukung hilirisasi sawit serta kemandirian energi Indonesia,” pungkas Anne. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com