Meredam Dampak El Niño untuk Keberlanjutan Sawit Nasional

oleh -628 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Edi Suhardi, Analis Minyak Sawit Berkelanjutan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Sektor kelapa sawit Indonesia kembali memasuki fase ujian daya tahan sebagai salah satu industri strategis nasional. Setelah beberapa tahun bergulat dengan dinamika geopolitik global, fluktuasi harga, dan perubahan kebijakan di dalam negeri, kini tantangan lain muncul dari faktor alam. Fenomena El Niño yang diproyeksikan akan memicu musim kemarau panjang hingga awal 2027, membawa konsekuensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dampak kekeringan mulai terasa di sektor perkebunan dan berpotensi merambat ke berbagai sendi kehidupan, mulai dari kesehatan, hingga aspek social ekonomi masyarakat. Bagi industri kelapa sawit, ancamannya bahkan bersifat multidimensi. Risiko kebakaran perkebunan meningkat, stigma sebagai penyebab kebakaran hutan kembali mengemuka, dan yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan sistemik produktivitas sawit nasional.

Dalam industri minyak kelapa sawit mentah (CPO), iklim bukan sekadar faktor pendukung, melainkan penentu utama produktivitas. Secara biologis, tanaman kelapa sawit memiliki karakteristik lagged effect atau efek tunda. Stres air akibat kekeringan berkepanjangan tidak serta-merta menurunkan produksi ketika kemarau berlangsung. Dampaknya baru terlihat pada proses pembungaan dan pembentukan buah sekitar 9 hingga 24 bulan kemudian. Dengan kata lain, apabila El Niño menguat pada pertengahan 2026, penurunan produksi nasional baru akan terasa sepanjang 2027.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 9–15 September 2026 Naik, Umur 9 Tahun Rp3.994,10/Kg

Karena itu, pemerintah bersama dunia usaha dan masyarakat, perlu memahami potensi dampak kekeringan melalui penelusuran rekam jejak historis serta pemetaan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selalu mengiringi siklus El Niño. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi dasar untuk merumuskan paket kebijakan yang mampu memperkuat daya tahan pekebun swadaya maupun perusahaan dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.

Sejarah mencatat, ketahanan industri sawit Indonesia telah berulang kali diuji oleh fenomena El Niño. Setiap siklus menghadirkan tantangan berbeda, sekaligus meninggalkan pelajaran penting bagi pengelolaan industri ke depan.

Gelombang El Niño 1997–1998 menjadi salah satu episode paling berat. Kombinasi cuaca ekstrem dan praktik pembukaan lahan yang ketika itu belum tertata memicu kebakaran besar di Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Produktivitas tandan buah segar (TBS) pada tahun berikutnya tercatat turun sekitar 15–20 persen. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik balik lahirnya berbagai kebijakan pengendalian kebakaran, termasuk penerapan zero burning policy yang hingga kini menjadi salah satu prinsip utama dalam pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan.

BACA JUGA: Tumbal Proyek Karhutla: Petani, Sawit, dan Politik Kambing Hitam Tata Kelola

Gelombang El Niño berikutnya kembali mengingatkan industri sawit pada besarnya risiko yang menyertai perubahan iklim. Pada 2015, kebakaran lahan gambut berskala luas kembali terjadi dan menahan laju produksi CPO nasional pada 2016 hingga menyusut sekitar 3–5 persen.

Ketika El Niño kembali muncul pada 2023, kapasitas mitigasi sebenarnya telah jauh berkembang. Sistem pemantauan berbasis satelit, penguatan koordinasi antarlembaga, serta penegakan hukum yang lebih konsisten mampu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, satu persoalan tetap tidak berubah: stres air akibat kemarau panjang berdampak pada stagnasi pertumbuhan produksi sawit nasional sepanjang 2024.

Pengalaman dari tiga siklus El Niño tersebut memperlihatkan pola yang sama. Setiap kali kekeringan ekstrem terjadi, produksi sawit nasional selalu mengalami tekanan, baik secara langsung maupun melalui efek tunda.

BACA JUGA: Bappenas: Hilirisasi Sawit Harus Dimulai dari Pembenahan Sektor Hulu

Risiko yang paling perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi karhutla. Asap pekat yang dihasilkan juga mengurangi intensitas sinar matahari yang dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis, mengganggu proses pembentukan buah, serta menurunkan efektivitas penyerbukan alami.

Persoalan tersebut tidak semata-mata berdimensi ekologis. Kembalinya kabut asap juga berpotensi menghidupkan kembali kampanye negatif terhadap industri sawit Indonesia, terutama di tengah semakin ketatnya regulasi global. Dalam situasi seperti ini, setiap titik api bukan hanya menjadi ancaman bagi produksi, tetapi juga terhadap reputasi industri sawit nasional di pasar internasional.

Dampak El Niño 2027 diperkirakan tidak berhenti di tingkat kebun. Efeknya dapat menjalar hingga ke tingkat makroekonomi. Pekebun swadaya, yang menguasai sekitar 40–41 persen luas perkebunan sawit nasional, menjadi kelompok yang paling rentan. Penurunan produksi pada akhirnya akan langsung menggerus pendapatan rumah tangga di wilayah perdesaan. Pada skala nasional, berkurangnya produksi CPO hingga jutaan ton akan memangkas penerimaan devisa ekspor yang bernilai puluhan miliar dolar AS.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Senin (7/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat

Di sisi lain, penurunan pasokan memang lazim diikuti kenaikan harga CPO dunia. Namun, bila volume ekspor menyusut, sementara pasar global dibanjiri minyak nabati substitusi seperti kedelai dan kanola, maka manfaat dari penguatan harga menjadi terbatas. Belum lagi, mekanisme pungutan ekspor dan bea keluar yang bersifat progresif menyebabkan sebagian kenaikan harga global terserap menjadi beban fiskal. Akibatnya, penguatan harga CPO internasional tidak langsung menaikkan pendapatan yang signifikan bagi pelaku usaha maupun pekebun.

Mengingat nilai strategis industri sawit bagi perekonomian nasional, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu menyiapkan langkah mitigasi yang mampu meredam dampak El Niño, mencegah karhutla, sekaligus menjaga produktivitas sawit nasional. Dalam konteks itu, sedikitnya terdapat tiga pilar kebijakan yang layak menjadi perhatian.

Pertama, pemerintah perlu melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap pungutan ekspor dan bea keluar produk sawit. Ketika produksi nasional mengalami penurunan tajam akibat El Niño, skema fleksibilitas atau pengurangan sementara pungutan ekspor menjadi penting untuk dipertimbangkan. Kebijakan tersebut dapat memberi ruang bagi pelaku usaha dalam mempertahankan arus kas, sehingga mereka tetap memiliki kapasitas untuk membiayai pencegahan kebakaran hutan dan lahan, menjaga infrastruktur perkebunan, serta merawat tanaman pada masa-masa kritis.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com