InfoSAWIT, JAKARTA – Peran mandor dan asisten di perkebunan kelapa sawit dinilai tidak berhenti pada pengawasan pekerjaan dan pencapaian produksi. Interaksi mereka dengan pemanen turut membentuk pengalaman pekerja terhadap perusahaan dan dapat memengaruhi keputusan untuk bertahan.
Harry Agug Pratama, Dept Head of HR Business Partner & Organisation Development PT Pasifik Agro Sentosa, mengatakan persoalan tersebut menjadi bagian dari hasil evaluasi perusahaan terhadap faktor yang menyebabkan pekerja meninggalkan perkebunan.
Hal itu disampaikan Harry dalam IPS Planter Talks 2026 Series 1 bertajuk “Darurat SDM Sawit”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (19/9/2026).
BACA JUGA: Dr. Hari Priwiratama Dipercaya Pimpin PPKS, Bawa Pengalaman Riset Proteksi Sawit
Menurut Harry, mandor dan asisten merupakan pihak yang paling sering berinteraksi langsung dengan pemanen. Karena itu, mereka menjadi representasi atau “wajah” manajemen di tingkat lapangan.
Cara berkomunikasi, respons terhadap persoalan pekerja, hingga kemampuan pemimpin memahami kebutuhan bawahannya dapat memengaruhi kenyamanan bekerja. Pendekatan kepemimpinan yang kurang baik, termasuk komunikasi yang tidak sesuai, berpotensi menjadi salah satu alasan pekerja tidak bertahan.
Di sisi lain, perusahaan juga melihat kondisi lingkungan tempat tinggal sebagai bagian dari strategi mempertahankan tenaga kerja. Perbaikan fasilitas perumahan, air bersih, listrik, layanan kesehatan, serta kebutuhan pendidikan anak menjadi sejumlah aspek yang diperhatikan.
Pasifik Agro Sentosa juga mengembangkan kegiatan komunitas seperti olahraga dan kompetisi musik. Program tersebut diarahkan untuk membangun interaksi sosial dan kekompakan antarkaryawan di kawasan perkebunan.
Harry menilai ketika perusahaan merekrut pekerja yang telah berkeluarga, perhatian tidak hanya perlu diberikan kepada pekerja, tetapi juga ekosistem keluarganya. Kehadiran fasilitas dan aktivitas untuk anak maupun keluarga diharapkan membuat lingkungan perkebunan terasa lebih nyaman sebagai tempat tinggal.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keterikatan pekerja dengan perusahaan. Sebab, dalam industri perkebunan yang beroperasi di wilayah yang jauh dari pusat perkotaan, kualitas kehidupan di lingkungan kerja dapat menjadi salah satu pertimbangan tenaga kerja untuk bertahan.
BACA JUGA: Transparansi Upah Jadi Kunci Menahan Pemanen Sawit agar Tidak Pindah Perusahaan
Dengan demikian, pengelolaan SDM pemanen tidak hanya menyangkut produktivitas di ancak panen, tetapi juga bagaimana perusahaan membangun lingkungan kerja dan kepemimpinan yang mampu membuat pekerja merasa dihargai. (T2)



















