Marlon Sitanggang: Ganoderma Tak Hanya Mengancam Areal Replanting, Kebun Generasi Pertama Juga Perlu Waspada

oleh -3.279 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. Penulis untuk InfoSAWIT/Ilustrasi serangan penyakit Ganoderma.

InfoSAWIT, JAKARTA – Penyakit Ganoderma menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Risiko serangan tidak hanya muncul pada areal replanting, tetapi juga dapat ditemukan sejak pembukaan kebun baru, termasuk pada tanaman generasi pertama.

Hal tersebut disampaikan Marlon Sitanggang, Head Agronomy PT Union Sampoerna Triputra Persada, saat berbicara dalam IPS Planters Talk 2026 bertajuk “From High Yield Estate to Sustainable Excellence”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (26/9/2026).

Marlon mengatakan, anggapan bahwa kebun generasi pertama sepenuhnya terbebas dari Ganoderma perlu ditinggalkan. Menurut dia, sumber inokulum penyakit tersebut dapat ditemukan pada vegetasi hutan sebelum kawasan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

BACA JUGA: Bukan Sekadar Pintar, Ini 3 Karakter yang Diminta Poltek Sawit CWE dari Calon Pemimpin Industri

“Tidak ada lagi jaminan bahwa area generasi pertama tidak terkena Ganoderma,” ujarnya.

 

Inokulum Ganoderma Bisa Berasal dari Vegetasi Hutan

Marlon menjelaskan, hasil eksplorasi terhadap pohon-pohon hutan menunjukkan adanya inokulum Ganoderma di lingkungan tersebut. Ketika kawasan kemudian dikonversi menjadi areal perkebunan kelapa sawit, sumber inokulum yang sudah berada di lingkungan dapat menjadi salah satu faktor risiko bagi tanaman.

Karena itu, menurutnya, pengelolaan Ganoderma seharusnya tidak hanya berfokus pada kebun yang sudah pernah ditanami kelapa sawit. Areal bukaan baru juga perlu memperhitungkan kondisi biologis tanah dan keberadaan sumber inokulum sejak awal.

BACA JUGA: Wisuda Poltek Kelapa Sawit CWE: Lulusan Diburu Industri, 86 Orang Sudah Terserap

Pada tanaman generasi pertama, dampak Ganoderma biasanya mulai terlihat seiring bertambahnya umur tanaman. Berdasarkan pengalaman yang disampaikannya, gejala mulai lebih terlihat pada tanaman berumur di atas 13 tahun, kemudian semakin jelas pada umur 15 tahun dan terutama ketika tanaman telah melewati 20 tahun.

Kondisi tersebut membuat pemantauan sejak dini menjadi penting agar perkembangan penyakit dapat diketahui sebelum menimbulkan kehilangan tanaman dalam skala lebih besar.

 

Parit Isolasi untuk Mengurangi Kontak Akar

Salah satu pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan kebun adalah penerapan parit isolasi. Strategi tersebut ditujukan untuk mengurangi kontak antarsistem perakaran yang berpotensi menjadi salah satu jalur penyebaran Ganoderma.

BACA JUGA: Malaysia Perkuat Pasar Sawit India, Menteri Perladangan Pimpin Misi Dagang ke Bengaluru dan Mumbai

Berdasarkan pengalaman yang dipaparkan Marlon, penerapan perlakuan tersebut menunjukkan hasil dalam menekan tingkat serangan pada kebun yang telah memasuki fase replanting.

Ia menyebut, tingkat serangan Ganoderma secara keseluruhan pada grup kebun yang dikelolanya masih berada di sekitar 0,03%.

Namun, ia mengingatkan pentingnya pencatatan yang lebih detail terhadap tanaman tumbang. Menurutnya, tanaman yang tumbang seharusnya tidak sekadar dicatat sebagai kehilangan populasi, tetapi juga ditelusuri penyebabnya sehingga dapat diketahui apakah terdapat kaitan dengan serangan Ganoderma.

BACA JUGA: PURAKA Soroti Risiko Kebun Rakyat Pasca-Penyitaan Satgas PKH: Status Lahan Belum Otomatis Selesai

 

Bahan Organik Harus Dikelola dengan Tepat

Selain parit isolasi, Marlon menyoroti peran bahan organik dalam membangun kesehatan tanah. Menurut dia, hubungan antara bahan organik dan Ganoderma perlu dilihat secara menyeluruh.

Bahan organik dapat meningkatkan aktivitas dan populasi mikroorganisme di dalam tanah. Namun, apabila pengelolaannya tidak tepat, kondisi tersebut juga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung mikroorganisme tertentu.

Sebaliknya, ketika bahan organik dikelola dan dimanfaatkan secara tepat oleh tanaman, kondisi tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan tanaman sehingga memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan penyakit.

BACA JUGA: Strategi Panen Efektif Jadi Kunci Dorong Produktivitas Sawit Berkelanjutan

Karena itu, menurut Marlon, strategi pengelolaan tanah tidak cukup hanya mengandalkan satu metode pengendalian.

 

Bangun Dominasi Mikroorganisme Menguntungkan

Marlon kemudian menekankan pentingnya membangun populasi mikroorganisme yang dapat berfungsi sebagai agen pengendali hayati atau biological control agent (BCA).

Konsepnya adalah menciptakan lingkungan tanah yang mendukung keberadaan mikroorganisme antagonis sehingga populasinya dapat berkembang dan mendominasi lingkungan perakaran.

 


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com