Riset Ungkap “Hujan Emas” Punya Potensi Jadi Senjata Baru Lawan Kumbang Tanduk Sawit

oleh -6.177 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros), momok bagi perkebunan kelapa sawit dan kelapa di Asia Tenggara.

InfoSAWIT, JAKARTA Upaya mengendalikan hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros), momok bagi perkebunan kelapa sawit dan kelapa di Asia Tenggara, menemukan harapan baru. Sebuah riset kolaboratif yang dipublikasikan dalam laporan bertajuk “First Report: Senna multijuga Subsp. multijuga (Fabales: Fabaceae) as an Attractant and Bioinsecticide for Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae)” mengungkapkan bahwa tanaman lokal yang dikenal masyarakat sebagai “Hujan Emas” memiliki potensi ganda, sebagai atraktan sekaligus bioinsektisida alami.

Riset ini melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai institusi, antara lain Ruli Wandri, Samsu Alam, Shervinia Dwi Ayundra, Azharudin Apriansa, Dwi Asmono, Subeki, Yuyun Fitriana, Rosma Hasibuan, dan Radix Suharjo. Penelitian bermula pada 2020 di areal perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk, Indonesia, ketika ditemukan banyak kumbang tanduk tertarik pada pohon “Hujan Emas” dan kemudian mati setelah memakan bagian tanaman tersebut.

Awalnya, identitas tanaman yang menarik perhatian kumbang tanduk ini belum diketahui. Tim peneliti kemudian melakukan serangkaian analisis morfologi dan sekuens genetik, termasuk pada gen MaturaseK, rps16, dan rpl16. Hasilnya, tanaman itu dipastikan sebagai Senna multijuga, spesies yang masih satu keluarga dengan Fabaceae dan dikenal di Amerika Selatan serta sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia.

BACA JUGA: Petani Perempuan Sawit Suarakan Kekhawatiran atas Regulasi EUDR di Brussel

“Identifikasi ini penting karena baru pertama kali dilaporkan Senna multijuga memiliki kemampuan sebagai atraktan dan bioinsektisida terhadap kumbang tanduk,” jelas tim peneliti dalam laporannya yang dikutip InfoSAWIT dari Penerbitan ilmiah akses terbuka, MDPI, Rabu (17/9/2025).

 

Lebih Efektif dari Perangkap Feromon

Pengujian di lapangan selama sembilan bulan memperlihatkan hasil mengejutkan. Dari 25 pohon S. multijuga yang diamati, jumlah kumbang tanduk yang tertarik dan terperangkap mencapai 836 ekor. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 512 ekor yang tertangkap melalui 299 perangkap feromon sintetis berbasis ethyl 4-methyloctanoate (E4-MO), yang selama ini dikenal sebagai standar atraktan.

“Artinya, kemampuan S. multijuga sebagai atraktan 1,6 kali lebih efektif dibandingkan feromon sintetis yang lazim digunakan,” ungkap para peneliti. Temuan ini membuka peluang bagi pengendalian hama yang lebih murah, efisien, sekaligus ramah lingkungan.

BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Sentuh Level Tertinggi dalam Lebih dari Satu Tahun

Selain menarik kumbang, ekstrak dari bagian daun, batang, dan kulit S. multijuga juga menunjukkan efek insektisida. Uji laboratorium menemukan bahwa daun lebih efektif membunuh larva, sementara batang dan kulit kayu mampu menimbulkan kematian baik pada larva maupun kumbang dewasa.

Tingkat mortalitas kumbang dewasa tercatat antara 12,5% hingga 25%, sementara pada larva berada di kisaran 1,25% hingga 3,75%. Meski persentasenya relatif rendah, hasil ini menegaskan adanya senyawa aktif dalam tanaman tersebut. Salah satunya diduga berasal dari alkaloid piridina, senyawa kimia yang juga dikenal berperan dalam banyak insektisida sintetis.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com