Kumbang Tanduk Ancam Perkebunan Sawit, Ahli Ingatkan Pentingnya Pengendalian Terpadu

oleh -9.163 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).

InfoSAWIT, JAKARTA Serangan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) kembali menjadi sorotan para ahli perkebunan. Hama yang dikenal dengan nama kumbang badak ini dinilai mampu menimbulkan kerusakan serius pada tanaman kelapa sawit maupun kelapa, baik pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman dewasa yang sudah produktif.

Heri Sunarko, pakar Integrated Pest Management (IPM), mengungkapkan bahwa serangan kumbang tanduk dapat menggerogoti seluruh bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah. “Batang, pelepah, hingga pucuk atau titik tumbuh sawit bisa diserang. Akibatnya muncul lubang gerekan berbentuk huruf V atau kipas pada daun dan pelepah. Jika dibiarkan, tanaman bisa mati,” jelas Heri dikutip InfoSAWIT dari Blog resmi-nya, Kamis (18/9/2025).

Menurut Heri, kumbang tanduk kerap menyerang perkebunan sawit muda yang baru ditanam. Dampaknya bisa lebih parah dibanding serangan pada tanaman dewasa. Dalam beberapa kasus, kematian tanaman bahkan tidak bisa dihindarkan.

BACA JUGA: Dami Mas Kumpulkan Hampir 100 Pelanggan, Dorong Produktivitas Sawit Lewat Benih Unggul dan Praktik Berkelanjutan

Fenomena ini, lanjutnya, semakin meningkat seiring praktik zero burning dalam pembukaan lahan. Tanpa pembakaran, sisa-sisa biomassa organik di kebun justru menjadi lokasi ideal bagi perkembangbiakan kumbang tanduk. “Inilah konsekuensi yang harus dihadapi industri sawit Indonesia. Kita tidak bisa lagi menggunakan metode bakar karena dinilai tidak ramah lingkungan, tapi di sisi lain, risiko serangan hama juga bertambah besar,” papar Heri.

 

Siklus Hidup Panjang

Kumbang tanduk berkembang biak dengan metamorfosis sempurna, dari telur hingga dewasa, dengan siklus hidup lebih dari satu tahun. Telurnya menetas dalam 8–12 hari, kemudian menjadi larva berbentuk ulat putih kekuningan yang dapat bertahan hingga 200 hari. Setelah melewati fase pupa selama 17–30 hari, serangga dewasa akan muncul dan dapat hidup hingga tujuh bulan.

“Larva biasanya ditemukan di tumpukan kayu, pelepah busuk, janjang kosong, atau limbah pabrik sawit. Itu sebabnya pengelolaan breeding site sangat penting. Tanpa itu, pengendalian apa pun tidak akan efektif,” tambah Heri.

BACA JUGA: Hasil Riset: Petani Sawit Swadaya Terancam Tersisih dari Pasar Sawit Berkelanjutan

Beragam Strategi Pengendalian

Heri menekankan bahwa pengendalian kumbang tanduk harus dilakukan secara terpadu. Beberapa metode yang dianjurkan antara lain:

  • Mekanis: mengutip kumbang secara manual dengan alat kait besi pada tanaman muda.
  • Sanitasi kebun: membersihkan dan mencacah kayu mati, janjang kosong, dan sisa organik agar cepat lapuk dan tidak menjadi sarang larva.
  • Perangkap feromon: memanfaatkan aroma kimia untuk menarik kumbang dewasa, efektif pada tanaman sawit yang sudah tinggi.
  • Repellent alami: penggunaan kapur barus (naphthalene) yang terbukti mampu menekan serangan hingga 97%.
  • Biologis: pemanfaatan musuh alami seperti Baculovirus oryctes, Metharizium sp., dan Beauveria bassiana.
  • Kimiawi: penggunaan insektisida berbentuk cair atau granul, meski metode ini dinilai kurang efisien untuk tanaman menghasilkan.

“Pengendalian tanpa eradikasi breeding site ibarat menguras perahu bocor tanpa menambalnya. Serangan akan terus terjadi,” ujar Heri memberi peringatan.

Selain berbagai metode pengendalian, pemantauan rutin menjadi kunci. Intensitas serangan dan keberadaan tempat berkembang biak harus terus dipetakan untuk menentukan strategi lanjutan. Dengan begitu, petani dapat menekan risiko kerusakan sebelum hama menyebar luas.

BACA JUGA: MSPO Diakui Uni Eropa, Tapi Belum Sah Jadi Tiket Bebas EUDR

Heri menegaskan, pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan tidak hanya soal sertifikasi atau produktivitas, tetapi juga mencakup perlindungan tanaman dari hama berbahaya. “Kumbang tanduk memang kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Tanpa manajemen yang tepat, keberlanjutan kebun sawit akan terganggu,” pungkasnya. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com