Saatnya Menjaga Produksi Sawit Tetap Tinggi, Tatkala Hujan Tak Pasti

oleh -5.244 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Marlon Sitanggang/Embung di perkebunan sawit untuk menghadapi tidak menentunya curah hujan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Di beberapa daerah musim kering mulai tiba dan suhu yang terus meningkat menjadi mimpi buruk bagi para pelaku sawit. Ancaman bunga tak terbentuk, buah gagal tumbuh, panen pun merosot. Guna menjaga produksi tetap tinggi butuh strategi antisipatif yang tak sekadar mengandalkan hujan.

Tak banyak sektor yang ketergantungannya pada cuaca sekuat perkebunan kelapa sawit. Bagi para planter, cuaca bukan hanya variabel, tapi juga mitra kerja—atau bahkan lawan. Ketika langit enggan menurunkan hujan dan suhu terus merangkak naik, sawit merespons dengan sinyal-sinyal yang tak bisa diabaikan. Salah satunya, produktivitas yang merosot.

Hal inilah yang dirasakan secara umum bagi pelaku perkebunan kelapa sawit di seluruh wilayah Indonesia. “Produksi tahun 2024 mengalami penurunan dibanding 2023. Salah satu penyebab utamanya adalah water deficit yang terjadi di tahun sebelumnya,” ungkap Marlon Sitanggang, Divisi Head Agronomy USTP, saat berbincang dengan InfoSAWIT, akhir Mei 2025.

BACA JUGA: BMKG: Curah Hujan Indonesia Didominasi Kategori Menengah, Waspadai Kekeringan di Sentra Sawit

Kekeringan bukan hanya mengubah konsistensi tanah menjadi keras dan retak. Lebih dari itu, ia mengganggu siklus hidup pohon sawit secara mendalam. Marlon menjelaskan gejala fisiologis yang terlihat jelas saat musim kering berkepanjangan melanda, diantaranya tiga atau lebih daun tombak tidak membuka. “Itu artinya tanaman sedang menunda proses pembentukan bunga. Ini sangat serius, karena artinya proses pembentukan buah juga tertunda—dan dalam beberapa kasus, bisa gagal total,” ungkap Marlon

Gejala lain yang muncul setelah hujan turun kembali, justru menjadi tantangan baru, yakni pelepah sengkleh. “Pelepah patah di bagian pangkal. Ini menyulitkan proses panen dan secara fisiologis mengganggu proses fotosintesis,” ujarnya.

BACA JUGA: Reorganisasi Kebun Sawit Sitaan: Momentum Menuju Tata Kelola Profesional dan Berkelanjutan

Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia agronomi kelapa sawit. Sejumlah studi, seperti yang dilakukan oleh Corley & Tinker dalam The Oil Palm (2016), menyebutkan bahwa sawit sangat sensitif terhadap defisit air. Kekurangan air selama fase diferensiasi bunga dapat menyebabkan dominasi bunga jantan, penurunan berat janjang rata-rata (BJR), penurunan jumlah buah, dan akhirnya berdampak signifikan pada yield. (*)

Lebih lengkap Baca Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2025

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com