InfoSAWIT, JAKARTA – Kemampuan seorang pemimpin perkebunan kelapa sawit tidak cukup diukur dari keberhasilan memberikan instruksi kepada bawahan. Lebih dari itu, keberhasilan kepemimpinan tercermin dari kemampuan membangun tim yang kompeten, mandiri, dan mampu menyelesaikan persoalan operasional tanpa selalu bergantung pada atasannya.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan Head of Agronomy Division PT Pasifik Agro Sentosa, Suharto Sitanggang, dalam IPS Planter Talks 2026 – Series #5 bertajuk “Leading from the Field: Turning Leadership into Excellence & Result”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (7/11/2026).
Dalam pemaparannya, Suharto menyoroti pola kepemimpinan yang masih sering dijumpai di perkebunan, yakni sebatas memberikan perintah, menegur ketika terjadi kesalahan, tetapi tidak disertai edukasi dan pendampingan untuk memperbaiki kemampuan pekerja.
BACA JUGA: Produksi Kedelai Uni Eropa Diproyeksi Turun 20% pada 2026, Ketergantungan Impor Meningkat
Menurutnya, ketika persoalan produksi ditemukan, pemimpin tidak cukup hanya meminta asisten atau mandor memperbaikinya. Mereka juga harus memahami penyebab masalah, mengetahui langkah penyelesaian, serta mampu mencegah persoalan serupa terulang.
Suharto mencontohkan kasus tanaman yang tidak terpanen karena alat kerja yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi tanaman. Dalam situasi tersebut, perintah untuk meningkatkan panen tidak akan menyelesaikan masalah apabila pekerja tetap tidak memiliki peralatan yang memadai.
Karena itu, manajer dan asisten perlu memberikan pemahaman kepada mandor dan pekerja, memastikan kebutuhan peralatan terpenuhi, serta melatih mereka agar dapat menjalankan pekerjaan secara efektif.
BACA JUGA: HIP Biodiesel November 2026 Ditetapkan Rp14.312 per Liter, Belum Termasuk Ongkos Angkut
Ia menilai, proses pembinaan seperti itu menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian tim. Jika setiap persoalan hanya dapat diselesaikan ketika atasan datang ke lapangan, berarti kemampuan anggota tim belum berkembang secara optimal.
Selain membangun kompetensi, seorang pemimpin juga harus mampu menetapkan target dan menentukan skala prioritas. Ketika berbagai persoalan ditemukan dalam operasional kebun, asisten perlu memilah pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingan dan dampaknya terhadap pencapaian target.
Suharto juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan sikap menghargai sesama. Seorang pemimpin harus mampu menjalankan disiplin dan tanggung jawab tanpa harus mengandalkan kemarahan atau suara keras.
Dalam menjalankan tugasnya, pemimpin perlu mengambil berbagai peran, mulai dari pengarah, pengawas, pelatih, hingga pihak yang bertanggung jawab terhadap hasil kerja tim.
Menurut Suharto, ukuran keberhasilan seorang pemimpin justru terlihat dari kemampuannya melahirkan orang-orang yang hebat. Manajer yang baik harus mampu membentuk asisten dan mandor yang dapat bekerja, mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Dengan demikian, kepemimpinan di perkebunan bukan hanya tentang memastikan pekerjaan terlaksana, melainkan juga membangun kapasitas manusia di balik setiap kegiatan operasional. Tim yang mandiri dan kompeten menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga konsistensi kinerja perkebunan kelapa sawit. (T2)



















