InfoSAWIT, JAKARTA – Masa tua yang sehat, aman, dan tetap memiliki kehidupan yang layak tidak cukup hanya mengandalkan kondisi fisik yang prima. Persiapan finansial serta kepemilikan jaminan sosial menjadi bagian penting yang perlu dibangun sejak seseorang masih berada dalam usia produktif.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Sumarjono Saragih, dalam rangkaian kegiatan Social Security Academy yang diselenggarakan ILO–ITC Turin pada September 2026.
Menurut Sumarjono, jaminan sosial seharusnya tidak dipandang sebatas perlindungan ketika pekerja menghadapi risiko. Lebih dari itu, jaminan sosial merupakan bagian dari perencanaan kehidupan jangka panjang agar seseorang dapat memasuki masa tua dengan kondisi yang lebih terlindungi.
BACA JUGA: UU Reforma Agraria Indonesia Picu Ketidakpastian bagi Perusahaan Sawit Malaysia
“Menua dalam kondisi sehat secara fisik dan sosial adalah impian banyak orang. Lebih paripurna bila ada sejumlah tabungan yang memadai dan jaminan sosial untuk menjaga kehidupan secara layak,” demikian pesan yang disampaikan Sumarjono, dilansir InfoSAWIT dari kanal Instagramnya, Rabu (30/9/2026).
Namun, kondisi tersebut tidak hadir secara otomatis. Persiapan perlu dilakukan sejak dini, salah satunya dengan membangun kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan sekaligus memastikan kepesertaan dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Melalui berbagai program BPJS Ketenagakerjaan, pekerja mendapatkan perlindungan sosial yang dirancang untuk menghadapi berbagai risiko selama masa kerja hingga memasuki usia pensiun. Keberadaan skema tersebut menjadi salah satu fondasi dalam membangun perlindungan pekerja secara berkelanjutan.
BACA JUGA:Formula 100% Kesuksesan Poltek Sawit CWE: 50% Integritas, 30% Kepandaian, 20% Fisik
Persoalannya, masih terdapat pekerja usia produktif yang belum menjadi peserta jaminan sosial ketenagakerjaan. Berbagai alasan dan kondisi, mulai dari keterbatasan informasi hingga persoalan kemampuan dan karakteristik pekerjaan, dapat menjadi faktor yang memengaruhi kepesertaan.
Bagi Sumarjono, kondisi ideal seorang pekerja bukan hanya mampu bekerja dan memperoleh penghasilan. Keselamatan kerja, kesehatan, perlindungan dari risiko akibat pekerjaan, serta jaminan sosial juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pekerja yang bermartabat.
Persoalan perlindungan sosial tersebut juga bukan hanya dihadapi Indonesia. Berbagai negara masih menghadapi tantangan dalam memperluas cakupan jaminan sosial dan memastikan pekerja memperoleh perlindungan yang memadai sepanjang siklus kehidupannya.
Karena itu, pembangunan sistem jaminan sosial membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pemberi kerja, pekerja, hingga masyarakat.
“Jaminan sosial bukan sekadar perlindungan ketika risiko datang. Ia adalah investasi untuk hidup yang bermartabat,” tegas Sumarjono.
Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi dari keikutsertaannya dalam Social Security Academy ILO–ITC Turin pada September 2026. Forum internasional tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai pengembangan sistem jaminan sosial sekaligus tantangan yang dihadapi berbagai negara dalam memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Selasa (29/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Bagi pekerja Indonesia, pesan itu relevan untuk diterapkan sejak usia produktif. Sebab, menyiapkan masa tua tidak hanya berarti menabung secara finansial, tetapi juga memastikan perlindungan sosial tersedia ketika kemampuan bekerja mulai berkurang.
Dengan demikian, bekerja secara selamat, menjaga kesehatan, menghindari penyakit akibat kerja, serta memiliki jaminan sosial merupakan bagian dari investasi untuk menghadapi masa depan. (T2)




















