InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang peningkatan penggunaan bahan berbasis kelapa sawit dalam formulasi pakan ayam untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, terutama soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai. Riset tengah dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perguruan tinggi untuk meningkatkan porsi substitusi tersebut.
Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, mengatakan pemanfaatan bahan berbasis sawit berpotensi menekan kebutuhan impor SBM apabila tingkat penggunaannya dalam formulasi pakan dapat ditingkatkan hingga lebih dari 10%.
“Kalau bisa di atas 10%, ini riset-riset sedang dilakukan oleh teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi. Kalau ini bisa di atas 10%, maka akan menurunkan impor SBM kita, bisa disubstitusi dari CPO ini. Mudah-mudahan ke depan risetnya makin cepat,” kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang dipantu melalui kanal YouTube Kemendagri RI, Selasa (6/10/2026).
BACA JUGA: Ekspor Indonesia Agustus 2026 Tembus US$26,61 Miliar, Naik 6,72 Persen
Menurut Makmun, penggunaan bahan berbasis sawit dalam pakan ayam saat ini masih terbatas, antara lain karena karakteristik bahan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan nutrisi unggas. Tempurung sawit, misalnya, memiliki tekstur keras sehingga penggunaannya perlu dikaji lebih lanjut agar tidak mengganggu sistem pencernaan ayam.
Ia menyebut pemanfaatan bahan berbasis sawit dalam formulasi pakan saat ini masih berada di kisaran 5%. Karena itu, penelitian diperlukan untuk menemukan komposisi yang tepat sekaligus meningkatkan pemanfaatan produk turunan sawit dalam industri peternakan.
Bungkil Inti Sawit Sudah Masuk Formulasi Pakan
Berdasarkan komposisi formulasi pakan ayam pedaging atau broiler, bahan baku lokal menyumbang sekitar 60% dari total kebutuhan. Jagung menjadi komponen terbesar dengan porsi 45%, disusul dedak atau bahan lokal lainnya sebesar 5%, bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM) 5%, serta CPO atau lemak sebesar 5%.
BACA JUGA: Gakkum Periksa 8 Perusahaan Sawit di Kuansing, Temukan Sejumlah Masalah Lingkungan
Sementara itu, bahan baku impor masih mencakup sekitar 40% formulasi pakan broiler. Komponen terbesarnya adalah SBM sebesar 25%, diikuti distillers dried grains with solubles (DDGS) 5%, meat and bone meal (MBM) 3%, dan corn gluten meal (CGM) 3%.
Bahan impor lainnya meliputi poultry by-product meal/hydrolyzed chicken feather meal sebesar 2%, mineral atau kalsium 1%, serta vitamin dan feed additive masing-masing 0,5%.
Pada formulasi pakan ayam petelur atau layer, kontribusi bahan baku lokal tercatat lebih tinggi, yakni 63%. Komposisinya terdiri atas jagung 45%, dedak atau bahan lokal lainnya 8%, PKM 5%, serta CPO atau lemak 5%.
Adapun bahan baku impor menyumbang 37% dari formulasi pakan layer, dengan SBM sebesar 20%, DDGS 7%, MBM 3%, CGM 3%, serta PBPM/HCFM 2%. Mineral atau kalsium berkontribusi 1%, sedangkan vitamin dan feed additive masing-masing sebesar 0,5%.
Hilirisasi Sawit Berpeluang Perkuat Industri Pakan
Besarnya porsi SBM dalam formulasi pakan broiler menunjukkan bahwa bahan baku impor masih memegang peranan penting dalam industri pakan unggas. Peningkatan pemanfaatan bahan turunan kelapa sawit berpotensi membuka alternatif pasokan domestik, meskipun penerapannya tetap memerlukan kajian nutrisi, keamanan, dan kelayakan teknis.
Bagi industri sawit, pengembangan bahan berbasis sawit untuk pakan juga membuka peluang memperluas pemanfaatan produk turunan di luar pasar minyak nabati dan energi. Bungkil inti sawit dan CPO atau lemak sawit telah tercantum dalam formulasi pakan yang disampaikan Kementan.
BACA JUGA: AS Tahan Produk Sawit Indonesia dari MAR dan HIP, Dugaan Kerja Paksa Jadi Sorotan
Namun, peningkatan substitusi tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Penelitian perlu memastikan bahwa bahan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ayam dan dapat diterapkan tanpa mengganggu performa ternak.
Kementan berharap riset bersama BRIN dan perguruan tinggi dapat mempercepat pengembangan formulasi tersebut. Apabila tingkat substitusi dapat ditingkatkan sesuai hasil penelitian, pemanfaatan bahan berbasis sawit berpeluang membantu mengurangi ketergantungan pada impor SBM sekaligus memperluas integrasi industri kelapa sawit dengan sektor peternakan. (T2)




















