InfoSAWIT, JAKARTA – Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) meningkat signifikan pada semester I 2026. Di tengah kenaikan produksi tersebut, perusahaan menyiapkan strategi peningkatan produktivitas perkebunan untuk memperkuat pasokan bahan baku internal dan menopang pertumbuhan produksi berikutnya.
Berdasarkan siaran pers perusahaan pada 31 Juli 2026, produksi CPO CSRA mencapai 47.781 ton selama Januari–Juni 2026, meningkat sekitar 25% dibandingkan 38.217 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi inti sawit atau kernel juga meningkat dari 8.419 ton menjadi 11.178 ton. Sementara itu, produksi tandan buah segar (TBS) naik menjadi 151.174 ton, dari 148.775 ton pada semester I 2025.
BACA JUGA: Ekspor Biodiesel AS Anjlok 66% pada Agustus 2026, Impor Melonjak
Peningkatan produksi CPO berlangsung bersamaan dengan kenaikan luas lahan tertanam inti menjadi 21.092,6 hektare, dibandingkan 20.323,5 hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, produktivitas TBS berdasarkan indikator hasil per hektare atau yield tercatat turun menjadi 8,1 ton per hektare, dari sebelumnya 8,4 ton per hektare. Di sisi lain, tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER) meningkat menjadi 20,6%, dibandingkan 20,2% pada semester I 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi CPO tidak hanya perlu dilihat dari penambahan hasil panen, tetapi juga dari kemampuan perusahaan mengoptimalkan proses pengolahan dan produktivitas kebun.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 14–20 Oktober 2026, Umur 9 Tahun Rp3.783,39 per Kg
Profil tanaman menjadi penopang prospek produksi
CSRA menyebut struktur umur tanaman sebagai salah satu faktor yang mendukung prospek pertumbuhan jangka panjang. Luas perkebunan inti tanaman menghasilkan mencapai 18.916,5 hektare, meningkat dari 17.644 hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari komposisi tanaman yang dipaparkan perusahaan, area tanaman berusia 4–7 tahun mencapai 3.052,7 hektare, sedangkan tanaman berusia 8–17 tahun mencakup 11.575 hektare.
Perusahaan menilai profil umur tanaman yang relatif produktif memberikan peluang untuk meningkatkan hasil produksi secara bertahap, seiring dengan penerapan praktik agronomi dan efisiensi operasional.
BACA JUGA: Mogok Kerja Buruh Panen Sawit PT SPMN Berlanjut, Tuntutan Rotasi Asisten Manajer Belum Dipenuhi
“Penerapan praktik agronomi yang tepat, didukung oleh rotasi tanam, penggunaan benih unggul, serta pemupukan berimbang, berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan optimalisasi pengelolaan sumber daya,” demikian catat keterangan resmi perseroan ditulis InfoSAWIT, Selasa (13/10/2026).
Memasuki semester II 2026, CSRA memprioritaskan peningkatan produktivitas seluruh unit perkebunan guna memastikan pasokan bahan baku internal tetap stabil dan berkualitas.
Upaya tersebut mencakup optimalisasi praktik budi daya, peningkatan kualitas pemeliharaan tanaman, penggunaan bibit unggul, pemupukan yang lebih efektif, serta penerapan teknologi pertanian modern.
BACA JUGA: DPRD Kalimantan Utara Gelar RDP Bahas Kemitraan Plasma PT Pipit Citra Perdana
Perusahaan juga mengoptimalkan kapasitas pabrik kelapa sawit melalui pembelian TBS dari pihak eksternal. Strategi ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi fasilitas pengolahan, meskipun kenaikan pembelian TBS luar turut menjadi faktor yang menekan margin laba kotor perusahaan pada semester pertama tahun ini. (T2)
