Bandung Sahari dan Perjuangan Mengubah Narasi Sawit di Indonesia

oleh -466 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Bandung Sahari, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI.

InfoSAWIT, JAKARTA – Bagi Bandung Sahari, persoalan sawit bukan semata soal kebun, pabrik, atau ekspor. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar dunia, perlahan kehilangan hak untuk menceritakan industrinya sendiri. Narasi negatif berkembang cepat, sementara data dan fakta kerap tertinggal di belakang.

Di sebuah ruangan di kawasan Rawamangun, Jakarta, Bandung Sahari membuka perbincangan dengan sebuah pertanyaan yang sempat membuat suasana hening.

“Kenapa kita selalu belajar tentang sawit dari orang asing?”

BACA JUGA: BPDP, Ditjenbun, dan PT CWE Latih Petani Sawit Bengkulu Membuat Pupuk Organik

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bagi pria yang kini menjabat Ketua Bidang Komunikasi GAPKI tersebut, jawabannya menyimpan persoalan besar yang selama bertahun-tahun menghantui industri sawit Indonesia.

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Hamparan kebunnya terbentang di banyak tempat. Jutaan orang menggantungkan hidup dari industri ini. Tetapi ketika dunia berbicara tentang sawit, yang sering menjadi rujukan justru penelitian, laporan, dan narasi yang lahir dari luar negeri.

Bandung tidak sedang mempersoalkan kualitas riset asing. Ia justru mempertanyakan mengapa bangsa yang hidup berdampingan dengan sawit setiap hari justru sering kali kehilangan suara dalam menceritakan industrinya sendiri.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 14–20 Oktober 2026, Umur 9 Tahun Rp3.783,39 per Kg

“Padahal sawit ada di depan mata kita. Ada di belakang halaman rumah kita. Ada di daerah dan kampung kita. Tapi kenapa kita lebih percaya cerita orang lain?” katanya.

Pertanyaan itu lahir dari perjalanan panjang yang dijalaninya selama puluhan tahun di dunia perkebunan.

Di luar aktivitasnya sebagai eksekutif perusahaan, Bandung dikenal aktif dalam berbagai organisasi yang berkaitan dengan lingkungan dan ilmu pengetahuan, selain sebagai pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Ia tercatat sebagai Governing Board Peka Indonesia Foundation, Peat Society of Indonesia, hingga Entomological Society of Indonesia. Publikasi ilmiahnya banyak membahas biodiversitas serangga, ekologi lingkungan, dan pengelolaan lanskap berkelanjutan.

BACA JUGA: Ekspor Biodiesel AS Anjlok 66% pada Agustus 2026, Impor Melonjak

Latar belakang itulah yang membuat cara pandangnya terhadap sawit sering berbeda, dan lebih tajam.

Ketika sebagian orang melihat sawit sebagai deretan pohon yang hanya menghasilkan minyak, Bandung melihat sesuatu yang lebih luas. Ia melihat manusia, keluarga, serta desa-desa yang bergerak dan mekar karena roda ekonomi yang berputar dari kebun hingga pabrik.

“Sawit itu bukan hanya soal pohon,” ujarnya.

BACA JUGA: 86 Pekebun Sawit Jambi Ikuti Pelatihan, Pelajari Pengelolaan Kebun dari Pembibitan hingga Pengendalian Hama

Dalam pandangannya, terlalu banyak diskusi tentang sawit yang berhenti pada persoalan luasan dan statistik lahan. Terlalu sedikit yang mencoba menghitung kehidupan yang tumbuh di sekelilingnya.

Bandung lalu mengajak publik membayangkan sebuah pabrik kelapa sawit yang berdiri di tengah wilayah perkebunan.

Setiap hari, ratusan pekerja datang dan pulang membawa penghasilan. Truk keluar masuk mengangkut tandan buah segar (TBS). Petani menjual hasil panennya. Buruh panen bekerja di kebun rakyat. Warung makan melayani pekerja. Bengkel memperbaiki kendaraan operasional. Pedagang sembako menjual kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA: Mogok Kerja Buruh Panen Sawit PT SPMN Berlanjut, Tuntutan Rotasi Asisten Manajer Belum Dipenuhi

“Berapa banyak transaksi yang terjadi di sana? Berapa banyak uang yang berputar? Berapa banyak keluarga yang hidup dari aktivitas itu?” tanyanya.

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Menurut Bandung, aspek tersebut jarang masuk ke dalam perdebatan publik mengenai sawit. Isu konflik, kebakaran, dan deforestasi memang menjadi bagian penting dalam perdebatan mengenai sawit. Namun, menurut Bandung, pembahasan tersebut perlu dilengkapi dengan gambaran mengenai kontribusi ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat sehari-hari.

Ia menyebutnya sebagai multiplier effect yang, menurutnya, belum banyak dipetakan dan dikomunikasikan secara utuh kepada publik.

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com