Stok Sawit Malaysia Melonjak, Tangki Penyimpanan di Sarawak Kian Penuh

oleh -456 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Crude Palm Oil (CPO).

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Lonjakan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Malaysia mulai menekan kapasitas penyimpanan, terutama di Sarawak, negara bagian penghasil sawit terbesar di negara tersebut. Peningkatan hasil panen yang melampaui perkiraan, ditambah tingginya biaya angkutan, membuat pengiriman melambat ketika persediaan minyak sawit terus bertambah.

Sejumlah pelaku industri dan pekebun menyebutkan, tangki penyimpanan minyak sawit di Sarawak, Pulau Kalimantan, kini mendekati kapasitas maksimal. Kondisi ini menjadi perhatian karena Sarawak menyumbang lebih dari 20% produksi minyak sawit Malaysia.

Sebagian besar pengiriman minyak sawit dari wilayah tersebut melewati Pelabuhan Bintulu, yang menangani lebih dari 90% ekspor Sarawak. Ketergantungan pada jalur utama tersebut membuat penumpukan stok semakin terasa ketika produksi meningkat dan pengiriman menghadapi kendala logistik.

BACA JUGA: Teladan Prima Agro Bagikan Dividen Interim Rp258,93 Miliar, Ditopang Kinerja Semester I 2026

Tekanan ini terjadi di tengah membengkaknya persediaan minyak sawit Malaysia. Pada September 2026, stok minyak sawit negara tersebut mencapai rekor 3,51 juta ton. Pada periode yang sama, produksi juga mencatat rekor tertinggi, bahkan sebelum memasuki puncak produksi musiman yang biasanya berlangsung pada Oktober.

Meningkatnya persediaan mendorong pemerintah Malaysia mempertimbangkan sejumlah langkah untuk mempercepat penyerapan stok, termasuk kemungkinan pembebasan sementara pungutan ekspor CPO guna mendorong penjualan ke pasar internasional.

 

Pemerintah Kaji Langkah Mengurangi Kelebihan Stok

Membengkaknya persediaan juga menekan pergerakan harga minyak sawit di pasar global. Kontrak berjangka minyak sawit acuan di Kuala Lumpur ditutup melemah pada perdagangan Selasa setelah sempat turun hingga 2,2%, menjadi penurunan harian terdalam dalam lebih dari satu bulan.

BACA JUGA: Delapan Perusahaan Sawit Indonesia Disorot Singapura Terkait Dugaan Karhutla Pemicu Kabut Asap

Sejak mencapai puncaknya pada Agustus, harga minyak sawit mengalami koreksi sehingga diskonnya terhadap minyak nabati pesaing semakin lebar. Kondisi tersebut membantu mendorong ekspor pada Oktober. Namun, besarnya persediaan masih membatasi peluang pemulihan harga secara berkelanjutan.

Presiden sekaligus Chief Executive Officer SD Guthrie, Mohd Haris Mohd Arshad, mengatakan, pemerintah dan pelaku industri telah menggelar pertemuan pekan lalu untuk membahas berbagai langkah mengatasi penumpukan stok, termasuk mempercepat penyaluran ke pasar luar negeri.

Sementara itu, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, Noraini Ahmad, menyatakan pemerintah tengah meninjau sejumlah usulan dari industri untuk mengatasi kelebihan pasokan.

BACA JUGA: Pakar: Efisiensi Pabrik Sawit Harus Dimulai dari Desain, Perawatan dan Kompetensi SDM

“Pada tahap ini, usulan tersebut masih dalam pertimbangan dan memerlukan pembahasan lebih lanjut,” ujarnya dilansir InfoSAWIT dari Blomberg, Minggu (1/11/2026).

 

Rantai Pasok Petani Sawit Terancam

Persoalan kapasitas penyimpanan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekspor, tetapi juga berpotensi mengganggu operasional pabrik kelapa sawit. Jika tangki penyimpanan terus penuh, sejumlah pabrik berisiko mengurangi kapasitas pengolahan karena tidak memiliki ruang yang cukup untuk menampung produksi.

Situasi tersebut dapat menghambat aliran tandan buah segar (TBS) dari perkebunan dan petani sawit, terutama ketika panen sedang mencapai puncaknya.

BACA JUGA: SVOC 2026 di Shanghai Soroti Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati

Haris mengingatkan pemerintah perlu mengambil keputusan dengan cepat agar perusahaan memiliki waktu untuk menyusun langkah antisipasi.

“Kami tidak ingin membahayakan rantai pasok,” kata Haris. Ia menegaskan, industri tidak menginginkan kondisi ketika petani sawit kesulitan menjual hasil panennya.

Di Sarawak, peningkatan produksi saat ini disebut menjadi yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat bersamaan, kenaikan harga diesel dan biaya pengangkutan semakin menambah tekanan terhadap distribusi minyak sawit.

BACA JUGA: Mentan Tekankan Peremajaan Sawit Rakyat dan Hilirisasi untuk Perkuat Kedaulatan Energi

Sejumlah perusahaan dilaporkan telah mengoperasikan tambahan pabrik untuk membantu menangani produksi. Otoritas setempat juga menjajaki pemanfaatan pelabuhan lain di Sarawak sebagai alternatif untuk mengurangi kepadatan pengiriman melalui Pelabuhan Bintulu.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi dan mengurangi tekanan terhadap fasilitas penyimpanan. Bagi industri sawit Malaysia, persoalan saat ini bukan hanya besarnya produksi, melainkan kemampuan menyalurkan kelebihan pasokan sebelum kapasitas penyimpanan mencapai batas maksimal. (T2)


Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com