InfoSAWIT, JAKARTA – Konferensi Meja Bundar Tahunan RSPO tentang Minyak Sawit Berkelanjutan (RT2026) mempertemukan para pemangku kepentingan global untuk mendorong aksi nyata dalam mewujudkan industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan. Pertemuan ini juga menegaskan pentingnya memastikan bahwa mandat dasar RSPO terus menghasilkan kemajuan nyata di bidang lingkungan dan sosial, di tengah dinamika geopolitik serta perubahan kondisi pasar global.
Mengusung tema “Strong Foundations – Impact in Action” (Fondasi yang Kuat – Aksi Berdampak Nyata), RT2026 mendorong upaya untuk melampaui pemenuhan standar dan ketertelusuran menuju pencapaian hasil nyata di seluruh rantai nilai minyak sawit berkelanjutan. Prinsip akuntabilitas, transparansi, dan tanggung jawab bersama menjadi landasan dalam berbagai pembahasan lintas sektor, yang mencakup upaya menghentikan deforestasi, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat aksi iklim, mendorong inklusi petani swadaya, serta menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat.
Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Data Menunjukkan Konsesi Bersertifikat RSPO Terdampak Kebakaran dengan Tingkat Jauh Lebih Rendah Dibandingkan Rata-Rata Industri
BACA JUGA: Tatkala Energi Menyerap Minyak Nabati
Konferensi tahunan utama RSPO tahun ini berlangsung pada periode yang penuh tantangan bagi Indonesia. Di tengah salah satu fenomena El Niño terkuat yang pernah tercatat, kebakaran hutan dan lahan telah melanda lebih dari 1,9 juta hektare wilayah di seluruh Indonesia selama
Januari hingga September 2026. Angka tersebut berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan oleh Nusantara Atlas.
Dalam pidato utamanya, CEO RSPO Joseph D’Cruz menanggapi kritik publik yang terus diarahkan kepada sektor kelapa sawit, sekaligus mengapresiasi upaya para pekerja di perkebunan Sumatra dan Kalimantan yang berada di garis depan dalam upaya pemadaman kebakaran. “Kami bukan industri yang berusaha menghindari pengawasan. Kami adalah sebuah kemitraan yang melakukan pemantauan terhadap diri kami sendiri secara lebih ketat dibandingkan pihak mana pun yang melakukan pengawasan terhadap kami.”
BACA JUGA: Langkah Strategis Petani Swadaya Sawit
D’Cruz menegaskan bahwa data menunjukkan konsesi bersertifikat RSPO terdampak kebakaran dengan tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri. Data pemantauan satelit dari Nusantara Atlas dan TreeMap selama periode Januari hingga September 2026 menunjukkan bahwa dari total 1,9 juta hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026, sekitar
14.500 hektare (0,8%) terkonfirmasi berada di konsesi bersertifikat RSPO.
“Apabila ditemukan indikasi kebakaran yang tidak lazim di konsesi tertentu, kami akan mengidentifikasi dan melakukan investigasi. Salah satu konsesi tersebut saat ini telah menjadi subjek pengaduan melalui Sistem Pengaduan RSPO, dan kami akan mencermati konsesi lainnya secara saksama.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 30 Oktober–5 November 2026, Umur 10–20 Tahun Rp3.717,77/kg
Lebih lanjut, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan lahan terbakar di area perkebunan petani swadaya bersertifikat RSPO, meskipun beberapa kelompok petani tersebut tinggal dan menjalankan kegiatan pertanian di tengah wilayah yang terdampak kebakaran. Hal yang perlu dicatat, hingga saat ini belum terdapat data maupun bukti yang menunjukkan bahwa unit bersertifikat RSPO secara sengaja melakukan pembakaran lahan,” ujar D’Cruz.
D’Cruz menutup pidatonya dengan seruan tegas dan penuh semangat kepada seluruh Anggota RSPO untuk tidak lagi berdiam diri dan berani menyuarakan komitmen mereka dalam mempertahankan rekam jejak yang telah dibangun, dengan menunjukkan data, fakta, serta bukti nyata atas tindakan yang telah dilakukan dalam pencegahan dan penanganan kebakaran.
“Kita semua harus menunjukkan kesediaan—baik sebagai individu maupun secara kolektif—untuk berdiri teguh pada apa yang telah kita bangun dan menyampaikannya secara terbuka ketika hal tersebut dipertanyakan. Sebab, ketika kita memilih untuk diam, kita membiarkan pihak-pihak yang paling tidak bertanggung jawab membentuk persepsi tentang industri kita sekaligus merusak hasil kerja keras selama dua dekade. Kita juga membiarkan sebuah sistem yang menjadi tumpuan mata pencaharian jutaan orang kehilangan nilai dan kredibilitasnya di mata mereka yang bahkan tidak pernah benar-benar memahaminya.”
Menghubungkan Petani Swadaya dengan Pembeli
Peran penting kelapa sawit dalam menopang mata pencaharian masyarakat pedesaan terlihat nyata dari keberadaan petani swadaya yang menjadi salah satu tulang punggung sektor ini. Petani swadaya menghasilkan hampir separuh dari total produksi minyak sawit Indonesia. Indonesia juga menjadi rumah bagi 77% petani swadaya bersertifikat RSPO di seluruh dunia, sehingga memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi sektor kelapa sawit menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Dalam RT2026, RSPO memberikan pengakuan kepada 45 kelompok petani swadaya baru dari Kolombia, Indonesia, Malaysia, Peru, dan Thailand yang telah berhasil menyelesaikan proses sertifikasi awal RSPO.
RT2026 juga mencatat tonggak pencapaian baru dari India. Patanjali Foods Limited, salah satu merek produk konsumen dan jaringan ritel terkemuka di negara tersebut, untuk pertama kalinya membeli Kredit RSPO untuk Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat Petani Swadaya (Independent Smallholder Certified Sustainable Palm Oil/IS-CSPO Credits). Dengan pembelian ini, Patanjali Foods Limited menjadi merek pertama di India yang mendukung petani swadaya melalui sistem Kredit RSPO.
BACA JUGA: HR CPO November 2026 Turun 6,07 Persen, Bea Keluar Ditetapkan US$124 per Ton
Selain itu, penyelenggaraan RSPO Independent Smallholder Business Matching untuk kedua kalinya mempertemukan para petani dengan para pemimpin industri yang telah berinvestasi dalam inisiatif pemberdayaan petani swadaya jangka panjang dan sertifikasi melalui pembelian Kredit RSPO. Kegiatan jejaring ini bertujuan membuka peluang komersial yang lebih luas dan bermakna dengan mempertemukan calon pembeli Kredit RSPO dengan kelompok petani swadaya dari berbagai negara.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam mendukung petani swadaya dan mendorong rantai pasok yang lebih inklusif, RSPO memberikan penghargaan kepada para anggota dengan kinerja terbaik berdasarkan pembelian Kredit RSPO selama periode November 2025 hingga September 2026. Penghargaan tersebut diberikan kepada Kao Corporation, Nestlé S.A., dan Unilever PLC sebagai tiga pembeli terbesar Kredit Petani Swadaya. Pengakuan juga diberikan kepada Lakeland Dairies Co-operative Society Limited sebagai pembeli baru dengan kinerja unggul, serta Pitak Palm Oil Company Limited sebagai pembeli terbesar Tandan Buah Segar (TBS) Bersertifikat. (T2)



















