Awalnya Dianggap Tak Waras, Kala Kembangkan Burung Hantu Di Kebun Sawit

oleh -4510 Dilihat
infosawit
Dok. Istimewa

InfoSAWIT, JAKARTA – Burung hantu (tyto alba) saat ini telah banyak dikembangkan untuk Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di sejumlah perkebunan kelapa sawit. Cara  ini dianggap efektif mengusir tikus sekaligus mengurangi penggunaa bahan kimia. Padahal awal pengembangannya banyak yang mengganggap pengendalian hama tikus dengan burung hantu adalah ide gila.

Sebenarnya awal pengembangan burung hantu (tyto alba) di perkebunan terinspirasi dari hal yang tak terduga. Sebagai karyawan di perusahaan perkebunan kelapa sawit, Mochammad Syaphon Adiwijaya tinggal di sebuah rumah besar bangunan Inggris tahun 1916, yang sebelumnya milik perusahaan perkebunan asing namun paska kemerdekaan dikembalikan ke negara dan dibeli perusahaan swasta.

Saat tinggal di rumah tersebut, keluarga itu dibuat penasaran lantaran dari 7 ruangan, ada 2 ruangan pada bagian belakang rumah yang sengaja tidak dipergunakan dan setiap malam pada ruangan tersebut terdengar detakan diatas plafon. Penafsiran pun muncul dari yang berbau mistis hingga adanya hewan pemangsa.

BACA  JUGA: Mengendalikan Hama Tikus Di Perkebunan Kelapa Sawit Dengan Tyto Alba

Guna menutup rasa penasaran, Syaphon pun menyuruh office boy rumah tersebut untuk memeriksa, ternyata di plafon tinggal sepasang burung hantu, tatkala dilihat oleh Syaphon di sekitar burung hantu itu dikelilingi banyak tulang tikus, dan sisa bangkai tikus yang membusuk.

Dari situlah akhirnya Syaphon berpikir bahwa burung hantu adalah pemangsa tikus. Ide pun muncul bagaimana bila burung hantu itu dipelihara dan dikembangbiakan untuk memburu tikus sekitar periode tahun 1990 an.

Selepas itu dikutip dari Buku “Anak Penggembala Kambing jadi Planters Sukses” karya Maruli Pardamean, Syaphon mendirikan Pusat Kesehatan Burung Hantu (Puskesburhan) yang bertujuan merawat burung-burung yang sakit atau kurang sehat. Dimana setelah pulih akan dikembalikan ke lepangan atau dimasukan ke kandang yang baru.

BACA JUGA: Dinas Perkebunan Sumut Fasilitasi Petani Sawit Bermitra dengan Perusahaaan

Pengembangan burung hantu itu pun ternyata melalui sederet pengujiaan yakni mengenai kemampuan memakan tikus, makanannya spesifik atau tidak, dan cara pengembangbiakannya. Ternyata kemampuan makan tikus burung hantu sehari dua hingga tiga tikus, sebab itu layak dikembangkan terlebih perkembangan tikus lebih cepat.

Ternyata dari hasil pengujian, burung hantu juga hanya menyukai tikus tidak dengan makanan yang lain. Setelah 1 tahun pengujian pertanyaan terakhir terjawab, bahwa seekor burung hantu betina mampu bertelur 4-11 butir sekali periode, dimana setiap periode adalah 4,5-5,5 bulan. Artinya dalam setahun burung hantu mampu bertelur sebanyak 8-22 butir untuk satu ekor induk.

BACA JUGA: Dinas Perkebunan Sumut Fasilitasi Petani Sawit Bermitra dengan Perusahaaan

Perjalanan pengembangbiakan burung hantu tersebut juga ternyata tidak mudah, bahkan Syaphon sempat dianggap kurang waras, lantaran kala itu orang-orang masih merasa takut dengan burung hantu, sementara Syaphon justru mengembangbiakan dan menyebarkannya di seluruh areal kebun sawit yang dikelolanya, sehingga banyak orang yang memusuhinya, utamanya masyarakat desa sekitar.

Lebih Lengkap Baca Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2022 

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com