InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Diungkapan ketua konsultan komoditas LMC International, James Fry, terbitnya Undang-undang deforestasi Uni Eropa diperkirakan tidak memiliki dampak yang berarti pada permintaan minyak sawit Asia Tenggara karena surplus menyusut di tengah meningkatnya konsumsi dari negara-negara berkembang.
Sebelumnya Uni Eropa pada bulan Desember menyetujui undang-undang deforestasi yang mewajibkan perusahaan untuk membuat pernyataan uji tuntas dan memberikan informasi yang “dapat diverifikasi” bahwa komoditas, termasuk kelapa sawit, tidak ditanam di lahan dengan membabat hutan setelah tahun 2020, atau berisiko terkena denda yang besar.
Peraturan tersebut disambut baik oleh para pencinta lingkungan sebagai langkah penting untuk melindungi hutan, tetapi produsen minyak sawit menuduh UE memblokir akses pasar untuk minyak nabati tersebut.
BACA JUGA: Perusahaan Sawit Aktif Ajak Masyarakat Peduli Hutan
Seperti dilansir Reuters, James Fry, menyebut, peraturan tersebut dapat mengurangi permintaan impor di UE, tetapi surplus akan diserap oleh pembeli seperti India, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika. “Sawit tidak cukup untuk memenuhi semua pasar, dan India akan sangat senang jika undang-undang deforestasi UE berarti ada lebih banyak minyak sawit untuk India,” tutur Fry.
Uni Eropa adalah importir minyak sawit terbesar ketiga di dunia dengan pasar yang menyusut kurang dari 10 persen, sementara negara-negara Asia seperti India dan China menyumbang lebih dari 40 persen impor global. Produksi minyak tropis telah meningkat dari produsen utama Indonesia, tetapi surplus sebagian besar diserap secara lokal lantaran munculnya kebijakan mandat biodiesel.
Pada bulan Januari 2023 pemerintah Indonesia meluncurkan program biodieselnya dengan mandatory biodiesel sawit 35 persen, meningkat dari sebelumnya yang hanya 30 persen, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada solar impor dan menopang permintaan.
Di Malaysia, produsen terbesar kedua, di mana produksi tahun lalu mencapai 18,45 juta ton, Fry mengatakan produksi mulai menurun karena penanaman kembali pohon kelapa sawit yang tidak produktif telah melambat. “Di Malaysia, tantangannya adalah apakah produksi akan melebihi 20 juta ton,” katanya. (T2)
