InfoSAWIT, JAKARTA – Selama dua dekade perusahaan perkebunan dan komunitas telah mengubah praktinya menjadi praktik yang layak lingkungan dan sosial, sekaligus melakukan semuanya guna menjadi lebih baik.
Kendati demikian masalah acapkali masih ada, termasuk kekhawatiran yang semakin besar terhadap perubahan iklim, emisi karbon, keanekaragaman hayati, masyarakat, kesenjangan pendapatan, tenaga kerja, dan hak asasi manusia.
Diungkapkan Chairman of the Singapore Institute of International Affairs, Simon SC Tay, sampai saat ini isu tersebut masih menjadi perhatian semua pihak, dan telah menjadi tanggung jawab bersama bagi yang tergabung dalam Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), namun telah dibuktikan bahwa seluruh perusahaan anggota RSPO telah berkomitmen mencapai triple bottom line (ESG) selama 20 tahun terakhir.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 22-28 November 2023 Tertinggi Rp 2.533,92/kg
“Dan Kami telah membuat banyak kemajuan dalam aksi ini,” katanya saat bicara pada sesi Roundtable Meeting RSPO (RT2023) bertajuk Shaping The Next 20: Synergising Policies and Strategies for Sutainable Palm Oil, yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu, (22/11/2023) di Jakarta.
Lebih lanjut tutur Simon, masalah memang ada namun perbaikan terus dilakukan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan, dan RSPO adalah standar terdepan di sektor industri ini. “Walaupun masih banyak pekerjaan rumah lainnya yang harus diselesaikan,” katanya.
Sementara diungkapkan Group Managing Director at Sime Darby Plantation Berhad, Datuk Mohamad Helmy Othman Basha, sebelumnya memang tidak banyak pihak yang memikirkan praktik sawit berkelanjutan, namun kini sawit berkelanjutan menjadi menjadi kata-kata yang kerap diucapkan semua orang dan menjadi ungkapan yang terlalu sering digunakan.
BACA JUGA: Dialog Sosial Jadi Cara GAPKI Menuju Minyak Sawit Berkelanjutan
“Tapi berapa banyak orang yang benar-benar bersungguh-sungguh menerapkannya? lantas berapa banyak orang yang benar-benar menerimanya?” tanya Datuk Mohamad Helmy.
