InfoSAWIT, MUMBAI – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Selasa, (19/12/2023) didorong oleh stok yang lebih rendah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi cuaca kering yang akan berdampak pada menurunnya produksi.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Maret 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 37 per ton atau terdapat kenaikan sekitar 0,99%, menjadi RM 3.782 (US$ 808,64) per ton pada tengah hari.
Diungkapkan pedangan yang berbasis di Mumbai, kenaikan harga minyak sawit tersebut akibat adanya penurunan stok minyak sawit dan prediksi penurunan produksi.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 20-26 Desember 2023 Naik Rp 21,75/Kg, cek Harganya..
Sementara merujuk Laporan Gabungan pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total ekspor di bulan Oktober mengalami kenaikan sebesar 11,4% menjadi 3,00 juta ton dari 2,69 juta ton di bulan September.
Kenaikan terbesar terjadi pada ekspor oleokimia sebesar 21,9% dari 333 ribu ton di bulan September menjadi 406 ribu ton di bulan Oktober, lantas diikuti olahan CPO sebesar 12,4% dari 1,96 juta ton pada bulan September menjadi 2,21 juta ton di bulan Oktober.
Sementara, merujuk Surveyor Cargo Intertek Service, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada paruh pertama bulan Desember turun 13,6% bulan ke bulan menjadi 591.490 metrik ton.
BACA JUGA: Menteri Pertanian RI Dorong Pengembangan Sawit dan Hilirisasi, Perkuat Posisi Industri Sawit
Masih dilansir Reuters, Minyak kedelai berjangka di Chicago Board of Trade berkode BOc2 tercatat turun 0,14%.
Impor minyak sawit India pada bulan November melonjak mendekati level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, atau naik hampir 23% dari bulan Oktober karena pelaku penyulingan lebih memilih minyak sawit dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari karena harga yang lebih ekonomis. (T2)
