InfoSAWIT, PONTIANAK – Dalam acara Welcome Dinner Acara 2nd Integrated Cattle and Oil-Palm Production (ICOP) Conference 2024, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero mengungkapkan, bahwa integrasi perkebunan dan peternakan merupakan terobosan baru, terutama di Kalimantan Barat, bahkan mungkin di seluruh Indonesia.
Heronimus menyampaikan keyakinannya bahwa masyarakat Indonesia menyukai dan mengkonsumsi daging sapi, namun sayangnya, pasokan daging sapi masih belum mampu mencukupi kebutuhan nasional.
Dalam keterangannya, Heronimus menyebutkan bahwa kebutuhan daging sapi di Indonesia mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun, sementara pasokan yang tersedia hanya mencapai 300 ribu hingga 400 ribu ton. Hal ini menjadi masalah serius di tingkat nasional, termasuk di Kalimantan Barat.
BACA JUGA: ICOP Ke 2: Integrasi Sapi-Kelapa Sawit Dukung Ketahanan Pangan Nasional
“Kebutuhan pasokan daging sapi di provinsi Kalbar sekitar 15 ribu ton, namun hanya dapat dipenuhi sekitar 30% dari jumlah tersebut, yakni sekitar 4.000 ton per tahun,” katanya pada acara Welcome Dinner Acara 2nd ICOP Conference 2024, dihadiri InfoSAWIT, Minggu (28/1/2024).
Sebab itu, dengan luas konsesi perkebunan kelapa sawit yang telah dilepaskan mencapai 3 juta hektar, di mana 300-500 ribu hektar di antaranya merupakan kebun yang dikelola oleh petani, Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk menerapkan integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit.
Heronimus menjelaskan bahwa sumber daya lahan yang dimiliki, terutama dalam perkebunan kelapa sawit, menjadi jawaban langsung untuk pengembangan peternakan sapi.
BACA JUGA: Warga Desa Pelimbangan Kecewa, Janji Plasma sawit PT Samora Belum Terwujud
Saat ini, kata dia, populasi sapi di Kalimantan Barat mencapai sekitar 126 ribu ekor, dan sekitar 30% dari jumlah tersebut dipotong setiap tahun untuk memenuhi konsumsi daging lokal. Pemerintah juga melakukan impor daging beku dari luar daerah, termasuk daging sapi dan kerbau.
