InfoSAWIT, KAMPAR – Mayoritas jalan desa di hampir 21 kecamatan se-Kabupaten Kampar saat ini mengalami kerusakan parah, menciptakan kondisi yang memprihatinkan. Desa Koto Garo dan Desa Danau Lancang menjadi contoh nyata, di mana jalan desa mereka rusak berat dan berbatasan langsung dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, baik yang berbasis perusahaan terbuka (PT) maupun milik pribadi.
Intensitas hujan yang semakin deras semakin memperburuk situasi di Desa Koto Garo, Kecamatan Tapung Hilir, dan Desa Danau Lancang, Kecamatan Tapung Hulu. Jalan desa yang hancur seperti bubur menciptakan ancaman serius bagi keselamatan pengendara roda empat maupun roda dua.
Salah satu contoh yang mencolok adalah Jalan Kelompok Tani hingga Jalan Kerikilan di Desa Koto Garo. Masyarakat setempat telah berbulan-bulan terpaksa berhadapan dengan jalan berlumpur, menghadapi berbagai ancaman dan kesulitan.
BACA JUGA: Pasokan Daging Sapi di Kalbar Baru Penuhi 30 Persen, Integrasi Sawit-Sapi Diyakini Jadi Solusi
Hal serupa terjadi di Kampung Baru, Desa Danau Lancang, di mana meskipun dikelilingi oleh perusahaan kelapa sawit, pabrik kelapa sawit, dan perusahaan minyak dan gas, penduduknya terpaksa berjuang dengan lumpur untuk mengevakuasi kendaraan yang terpuruk.
“Mayoritas Jalan Desa di Kampar Hancur, padahal Kiri Kanan Perusahaan Sawit,” kata Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Tingkat I, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Riau, Larshen Yunus kepada InfoSAWIT, Minggu (28/1/2024).
Belum lagi, fasilitas lampu penerangan jalan di Kabupaten Kampar sebagian besar tidak berfungsi, menciptakan suasana gelap di banyak desa. Yunus menilai situasi ini tidak sebanding dengan potensi alam yang luar biasa di Kabupaten Kampar. Kekayaan alam yang melimpah seolah tidak memberikan dampak positif pada kesejahteraan masyarakat.
BACA JUGA: Menko Airlangga Harap Peremajaan Sawit Jadi Contoh Keberhasilan Dengan Proses yang Transparan
Larshen Yunus menyerukan, kesatuan dan revolusi mental bagi masyarakat Kabupaten Kampar. Meskipun dihadapkan dengan ketidakadilan dan kondisi sulit, ia mendorong masyarakat untuk bangkit dan bersatu untuk memperjuangkan perbaikan infrastruktur, terutama jalan desa.
