Sebagai langkah positif menuju keberlanjutan, inisiatif RSPO ini memiliki potensi untuk membuka peluang baru bagi industri batik dalam memenuhi permintaan pasar yang semakin sadar akan lingkungan. Melalui penggunaan malam berbasis minyak sawit, batik tidak hanya tetap mempertahankan keindahannya, tetapi juga menjadi salah satu representasi produk seni yang ramah lingkungan.
Sementara Perwakilan komunitas Batik Laweyan, Trian Widiananto menyebutkan, bahwa sejauh ini, penggunaan malam sawit masih terbatas karena ketersediaan bahan bakunya yang masih baru. Meskipun begitu, upaya pemasaran hingga ke luar negeri telah diambil dengan memanfaatkan bahan-bahan tradisional.
Dia menjelaskan bahwa komposisi lilin dari malam sawit baru-baru ini telah diterima, dan proses pembelajarannya masih dalam tahap awal. Namun, harapannya adalah agar produk batik Laweyan yang menggunakan malam sawit dapat memperoleh daya tarik lebih baik di pasar internasional.
Lebih lanjut tutur Trian, dengan berpartisipasi dalam kegiatan RSPO Annual Roundtable Conference on Sustainable Palm Oil (RT2023) diharapkan dapat menjadi pendorong utama untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap produk batik sawit. Trian optimis bahwa melalui konferensi ini, produk batik Laweyan dapat dikenal secara lebih luas di luar negeri, terutama karena produk ini dianggap lebih ramah lingkungan. (*)
