Lebih lanjut kata Eddy, kendati demikian program ini juga berpotensi memunculkan kendala, musababnya petani sawit dan juga perusahaan sawit tidak memiliki pengalaman dalam penanaman tumpang sari dengan padi gogo. “Oleh karena itu butuh pendampingan dari pemerintah,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.
Terkait penyediaan benih padi gogo sebut Eddy, seluruhnya disediakan oleh pemerintah dalam hal ini Kementan atau dinas Pertanian. Lantaran Gapki tidak memiliki sumber benih padi gogo.
Diakui Eddy, potensi tumpang sari sawit dengan saat ini di Gapki hanya yang akan melakukan PSR, total berjumlah sekitar 512 ribu hektar.
”Harapan Gapki program ini dapat membantu pendapatan petani selama menunggu tanaman sawit menghasilkan, disisi lain dapat membantu pemerintah dalam penyediaan pangan atau padi,” tandas Eddy. (*)
