InfoSAWIT, JAKARTA – Pada akhir Agustus 2024, beberapa petani sawit swadaya dari Sintang, Kalimantan Barat, mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar dari praktik perkebunan kelapa sawit di Sabah, Malaysia.
Kunjungan ini difasilitasi oleh WWF Indonesia dan bertujuan untuk memperkenalkan praktik perkebunan berkelanjutan. Suratno, Manajer Koperasi Rimba Harapan yang telah bersertifikasi RSPO, mengungkapkan bahwa kunjungan ini memperkuat semangat petani untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih baik, terutama dari segi pelestarian lingkungan.
Suratno menuturkan bahwa secara umum, tidak banyak perbedaan antara praktik perkebunan sawit berkelanjutan di Malaysia dan Indonesia. Namun, petani sawit di Malaysia sangat disiplin dalam mematuhi dan mengikuti sertifikasi yang ditetapkan pemerintah, seperti di Indonesia dengan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). “Namun, masih sangat sedikit petani di Indonesia yang menyadari pentingnya sertifikasi ini,” katanya dikutip InfoSAWIT dari laman Fortasbi, Minggu (20/10/2024).
BACA JUGA: Berikut Pusat Pembibitan dan Edukasi Sawit Unggul di Kalteng
Salah satu hal yang menurutnya sangat membantu petani di Malaysia adalah dukungan pemerintah dalam infrastruktur jalan produksi. Infrastruktur yang baik ini menekan biaya produksi sehingga lebih efisien. Meski begitu, Suratno menambahkan bahwa untuk harga pupuk dan harga jual tandan buah segar (TBS), kondisinya serupa dengan di Indonesia. “Namun, di Indonesia ada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang dapat memberikan bantuan sarana dan prasarana bagi petani,” jelasnya.
Suratno juga mencatat bahwa di Malaysia, karena semua petani mengikuti sertifikasi, tidak ada persaingan harga antar petani. TBS sawit yang dihasilkan petani selalu dibeli sesuai dengan aturan sertifikasi, sehingga pasar lebih stabil.
Dalam hal pengelolaan lingkungan, petani sawit swadaya di Sabah sangat disiplin dalam menjaga area yang memiliki nilai konservasi tinggi, terutama kawasan di sekitar sungai. Jarak tanam antara sawit dan sungai di Sabah mencapai 10 meter yang tidak boleh ditanami sawit. “Mereka juga melakukan pembibitan tanaman untuk ditanam di area sungai. Ini yang ingin kami terapkan di Sintang,” kata Suratno.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalteng Periode I-Oktober 2024 Naik Rp 160,67/Kg Cek Harganya..
Kunjungan ini memberi inspirasi kepada para petani sawit di Indonesia untuk terus meningkatkan praktik berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan. (T2)
