Selain itu, Ery juga menyoroti pentingnya sertifikasi keberlanjutan, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebagai prasyarat utama dalam menembus pasar ekspor. Sertifikasi ini tak hanya meningkatkan praktik budidaya yang ramah lingkungan tetapi juga membuka akses pasar internasional bagi produk sawit Indonesia.
“Untuk bersaing di pasar global, produk sawit kita harus memenuhi standar keberlanjutan melalui sertifikasi seperti ISPO dan RSPO,” jelas Ery. Ia berharap sertifikasi tersebut dapat membantu meningkatkan pendapatan petani melalui perluasan pasar ekspor.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah petani sawit mulai menerapkan pola tanam interkultur, yaitu menanam komoditas lain seperti jagung dan cabai di sekitar kebun sawit. Menurut Ery, pola ini dapat membantu masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 1-7 November 2024 Naik Rp 112,02/Kg
Ery menutup pernyataannya dengan menyampaikan harapan agar kesejahteraan petani sawit dapat tercapai melalui dukungan dan kolaborasi dari pemerintah, perusahaan, dan lembaga lainnya. “Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat mewujudkan industri sawit yang terbaik dan berkelanjutan,” ujarnya. (T2)
