InfoSAWIT, BENGKULU – Aksi blokade jalan menuju PT Agricinal oleh Forum Masyarakat Bumi Pekal (FMBP) sejak 6 November 2024 telah memicu keresahan di kalangan petani plasma kelapa sawit. Para petani kesulitan menjual hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) ke perusahaan tersebut dan terpaksa mencari pabrik pengolahan minyak sawit mentah (CPO) lain yang berlokasi jauh dari kebun mereka.
Ketua Koperasi Perkebunan Makmur Mandiri (KPMM), Abdul Munir, menyatakan bahwa blokade ini telah berlangsung lebih dari sebulan, menyebabkan gangguan serius pada pengiriman hasil panen para petani plasma.
“Sebulan ini petani kami tidak bisa menjual TBS ke Agricinal. Kami terkendala oleh blokade yang dilakukan oleh FMBP,” ujar Munir dikutip InfoSAWIT, Rabu (18/12/2024).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltara Periode Desember 2024 Naik Rp 151,93/Per Kg
Akibat blokade tersebut, koperasi yang mengelola penjualan TBS dari petani plasma mengalami kesulitan keuangan. Pendapatan koperasi berhenti total, sehingga tidak mampu membayar gaji karyawan selama satu bulan terakhir.
“Kami sudah mencoba melakukan mediasi dengan pihak FMBP supaya TBS bisa masuk ke pabrik Agricinal. Namun hingga kini, pengiriman buah sawit ke PT Agricinal belum bisa dilakukan. Bahkan jika TBS kami bisa diolah di pabrik Agricinal, CPO yang dihasilkan juga tidak bisa dikeluarkan karena aksi blokade. Kalau situasi ini terus berlanjut, bagaimana nasib kami? Kami dituntut karyawan, tetapi tidak ada pemasukan,” keluh Munir.
Munir menjelaskan bahwa kondisi ini memaksa petani plasma menjual TBS ke pabrik lain yang jaraknya puluhan kilometer dari lokasi mereka. Hal ini menambah biaya transportasi sekaligus mengurangi keuntungan petani.
BACA JUGA: FMBP Arogan, Diduga Perintahkan Warga Jarah TBS Sawit PT Agricinal
“Banyak petani mulai bertanya-tanya mengapa pabrik tidak dapat menerima hasil panen mereka. Kami sudah menjalin kerja sama bertahun-tahun dengan PT Agricinal, tetapi sekarang semuanya terhenti. Petani bingung dan mulai kehilangan kepercayaan,” ungkapnya.
Selain itu, Munir menyebut bahwa mayoritas petani plasma di daerah ini bergantung penuh pada hasil kebun sawit untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Konflik yang berkepanjangan hanya akan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.
“Kami menginginkan masalah ini selesai secepatnya. Jangan sampai dampaknya terus menghancurkan kehidupan petani. Kami punya keluarga yang harus dinafkahi,” tegasnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 18-24 Desember 2024 Tertinggi Rp 3.799,00/kg
Aksi blokade oleh FMBP, menurut Munir, hanya mementingkan kepentingan kelompok tertentu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat luas, terutama petani plasma.
“Aksi ini tidak manusiawi. Mereka menuntut tanah kepada perusahaan, tetapi yang menjadi korban adalah petani sawit. Apakah mereka peduli dengan kami? Kami yang dirugikan karena jalan diblokade,” katanya dengan nada kecewa.
Blokade tersebut juga memengaruhi keberlangsungan kegiatan operasional di PT Agricinal, termasuk pengolahan TBS menjadi CPO. Bahkan, sebagaimana diungkapkan Munir, hasil produksi CPO yang seharusnya dipasarkan terpaksa tertahan akibat aksi tersebut.
Munir berharap konflik ini dapat segera diselesaikan melalui mediasi antara pihak terkait, baik FMBP, PT Agricinal, maupun pemerintah daerah. Ia mengingatkan bahwa jika dibiarkan berlarut-larut, dampak konflik akan semakin luas, merugikan petani plasma dan mengancam stabilitas ekonomi di wilayah tersebut.
“Kami berharap pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait dapat membantu mencari solusi. Petani tidak boleh terus menjadi korban konflik yang tidak ada hubungannya dengan mereka,” pungkas Munir. (T1)
