InfoSAWIT, JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas kebun sawit sebagai kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani tanpa harus memperluas lahan. Hal ini disampaikannya dalam sebuah forum internasional yang membahas masa depan sawit dan kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Produktivitas harus menjadi fokus utama. Petani sawit harus bisa meningkatkan hasil dari lahan yang sudah ada. Dengan begitu, kesejahteraan mereka meningkat tanpa harus membuka lahan baru,” ujar Musdhalifah saat Konferensi Pers dihadiri InfoSAWIT, Rabu (28/5/2025).
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi yang lebih erat di tingkat internasional, baik dengan negara produsen maupun konsumen minyak sawit, serta organisasi-organisasi global. Menurutnya, kerja sama lintas negara dan lembaga diperlukan untuk memperkuat posisi sawit dalam rantai pasok global dan menjawab tantangan keberlanjutan.
BACA JUGA: Izzana Salleh Resmi Jabat Sekjen CPOPC, Berikut Arah dan Komitmennya Kedepan
“Kita harus menyebarkan pemahaman bahwa kelapa sawit tidak hanya penting bagi penghidupan dan kesejahteraan masyarakat, tapi juga berperan besar dalam agenda iklim global,” lanjutnya.
Musdhalifah juga menggarisbawahi pentingnya melibatkan generasi muda dalam industri sawit. Menurutnya, edukasi kepada generasi muda tentang manfaat kelapa sawit bagi kesehatan, perekonomian, dan iklim harus terus ditingkatkan agar industri ini tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa CPOPC juga mendorong pemerintah negara-negara produsen untuk memperluas pemanfaatan biodiesel sebagai bagian dari transisi menuju energi terbarukan. Di Indonesia, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel dinilai sebagai salah satu langkah paling strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
“Pemerintah kami terus didorong untuk memperluas penggunaan biodiesel. Minyak sawit adalah salah satu sumber energi terbarukan terbaik untuk menggantikan solar berbasis fosil,” ungkap Musdhalifah.
BACA JUGA: Bukan Cuma Cuan, Ini Alasan Bupati Sekadau Dukung Sawit Rakyat dan Masyarakat Adat
Dalam konteks komitmen iklim, ia menyebut bahwa baik Indonesia maupun Malaysia telah menetapkan target ambisius menuju emisi nol bersih (Net Zero Emission). Malaysia menargetkan pencapaian Net Zero pada 2050, sedangkan Indonesia pada 2060.
