InfoSAWIT, JAKARTA – Upaya Indonesia memperluas akses pasar ke Eropa dan Eurasia menunjukkan perkembangan signifikan. Dua perjanjian perdagangan besar—Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-EU CEPA) dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Area (I-EAEU FTA)—didorong untuk rampung pada 2025, membuka peluang besar bagi produk unggulan nasional, termasuk minyak sawit.
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menyampaikan bahwa percepatan perundingan ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian perdagangan global. Kedua perjanjian akan menjadi instrumen kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia serta membuka akses ke lebih dari 600 juta konsumen dari Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia.
“Kami menargetkan kedua perjanjian selesai tahun ini. Kementerian Perdagangan akan memastikan penyelesaiannya agar manfaatnya langsung dirasakan pelaku usaha dan masyarakat,” ujar Budi Santoso, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Rabu (11/6/2025).
Perundingan CEPA dengan Uni Eropa sendiri telah berlangsung sejak 2016 dan kini memasuki putaran ke-19 yang digelar awal Juli 2024 di Bogor. Sementara itu, perundingan FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia, yang dimulai akhir 2022, sudah mencapai putaran ke-4 pada Maret 2024 di Armenia.
Salah satu sektor yang diproyeksikan akan memperoleh keuntungan besar dari perjanjian ini adalah industri kelapa sawit. Lewat penghapusan tarif dan hambatan nontarif, produk sawit Indonesia—yang selama ini kerap tersandung isu keberlanjutan di pasar Eropa—berpeluang meraih kembali kepercayaan dan akses pasar yang lebih luas.
Mendag Budi menjelaskan, kedua perjanjian dagang tersebut akan menurunkan hambatan bagi produk ekspor strategis Indonesia seperti kelapa sawit, produk pertanian, tekstil, dan elektronik. Dengan begitu, produk-produk ini akan lebih kompetitif di pasar Uni Eropa dan Eurasia.
BACA JUGA: SMAR Garap Bio-CNG dari Limbah Sawit, Siap Tembus Pasar Energi Bersih Eropa
“Kita sedang bicara tentang pasar dengan daya beli tinggi. Produk unggulan seperti sawit akan mendapat tempat lebih besar melalui sistem perdagangan yang lebih adil dan terbuka,” ujar Budi.
Menjawab Tantangan Lingkungan
Meski sektor sawit menjadi potensi unggulan, Indonesia juga menyadari adanya kekhawatiran dari mitra dagang terutama Uni Eropa terkait isu lingkungan. Dalam konteks ini, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag RI, Djatmiko Bris Witjaksono, menegaskan bahwa kerja sama dengan Eropa dirancang secara komplementer.
“Salah satu aspek penting adalah menciptakan keseimbangan antara perdagangan dan perlindungan lingkungan. Perjanjian ini akan mendorong pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan,” ujar Djatmiko.
