USDA Akan Rilis Laporan Luas Tanam Jagung dan Kedelai, Akankah Pola Sepuluh Tahun Berulang

oleh -2.965 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi Perkebunan Kedelai.

InfoSAWIT, CHICAGO – Pasar komoditas pertanian tengah menahan napas. Pada Senin mendatang, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) akan merilis laporan luas tanam (June Acreage Report)—salah satu rilis data terpenting dalam kalender tahunan sektor pertanian AS. Namun, jika berkaca pada satu dekade terakhir, laporan ini bukan sekadar pembaruan angka, melainkan potensi pemicu gejolak harga.

Selama sepuluh tahun berturut-turut, pasar secara konsisten melebih-lebihkan perkiraan luas tanam kedelai. Dan meskipun sejarah tidak selalu berulang, tren tersebut membuat laporan tahun ini semakin menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks fluktuasi tajam harga kedelai dan jagung beberapa pekan terakhir.

Pada Jumat pekan lalu, kontrak kedelai baru panen di Chicago sempat menyentuh level tertinggi tahunan—hanya terpaut kurang dari dua sen per bushel—sebelum kemudian anjlok sekitar 5% sejak saat itu. Sementara itu, kontrak jagung untuk pengiriman Desember mencetak harga terendah sepanjang kontrak pada Rabu, turun 12% dari puncak harga di bulan Februari.

BACA JUGA: Ketimpangan Perdagangan Komoditas Pertanian, Dorong Indonesia Manfaatkan Keunggulan Komparatif

Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Senin (30/6/2025), faktor cuaca juga turut menahan ekspektasi pergerakan harga dalam waktu dekat. Dengan prakiraan musim tanam di kawasan Corn Belt yang cukup ideal, diperlukan kejutan besar dari laporan USDA pada Senin untuk bisa mengubah arah pasar yang kini cenderung stabil.

Meski menjadi laporan penting, laporan luas tanam ini termasuk salah satu yang paling sulit diprediksi. Dalam enam tahun terakhir, realisasi luas tanam jagung dan kedelai kerap berada di luar rentang estimasi prarilis analis, meski tidak selalu di tahun yang sama.

Untuk kedelai, luas tanam bulan Juni telah secara konsisten berada di bawah rata-rata estimasi analis selama sepuluh tahun terakhir. Sementara jagung, cenderung melampaui ekspektasi, setidaknya dalam tujuh dari sepuluh tahun terakhir—termasuk empat tahun terakhir secara berturut-turut.

BACA JUGA: Perkembangan Pasar Komoditas Global: Hujan Muson India, Gandum AS Melemah, Sawit Malaysia Tertekan

Untuk laporan tahun ini, rata-rata estimasi analis memperkirakan luas tanam jagung sebesar 95,35 juta acre, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka Maret lalu sebesar 95,326 juta. Namun menariknya, 10 dari 24 analis justru memproyeksikan penurunan dari angka Maret, yang berbeda dari tren historis di mana luas tanam jagung cenderung naik dari Maret ke Juni dalam 15 dari 20 tahun terakhir.

Sebaliknya, estimasi luas tanam kedelai tahun ini dipatok sebesar 83,655 juta acre, naik tipis dari Maret yang sebesar 83,495 juta. Sebanyak 14 dari 24 analis memperkirakan kenaikan. Namun sejarah menunjukkan bahwa lima dari enam tahun terakhir, angka bulan Juni justru lebih rendah dari Maret (pengecualian pada 2020).

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com