Data Disbun Kaltim mencatat, sektor kelapa sawit menyumbang PDRB terbesar kedua setelah pertambangan dan menyerap sekitar 12 persen tenaga kerja di provinsi tersebut. Namun, tantangan besar masih membayangi. Produktivitas kebun sawit rakyat di Kaltim masih di bawah rata-rata nasional, dan baru sebagian kecil dari total luas kebun yang telah memenuhi standar sertifikasi keberlanjutan.
Dalam upaya transformasi ini, pendekatan yang diusung mencakup penerapan prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), penguatan kapasitas penyuluh, peningkatan kemitraan pekebun dalam rantai pasok, serta mekanisme insentif dan pemantauan bagi perusahaan yang berkomitmen menjalankan praktik berkelanjutan.
Menutup rapat, Ade menegaskan kembali komitmen GIZ untuk terus mendampingi proses transformasi sawit di Kaltim melalui forum ini.
BACA JUGA: BPDP Tegaskan Komitmen Integrasi Hulu-Hilir Sawit Berkelanjutan
“Kami percaya transformasi hanya akan berhasil jika semua pihak duduk bersama, memahami tantangan, dan berani mengambil langkah nyata,” katanya.
Senada, Andi Siddik menekankan bahwa FKD diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk menjawab tantangan sektor sawit saat ini. “Kami ingin transformasi ini tidak hanya memperbaiki angka, tapi juga menyentuh kualitas hidup, lingkungan, dan masa depan perkebunan rakyat Kaltim,” pungkasnya. (T2)
