InfoSAWIT, SANGATTA — Di tengah ketidakpastian pasar global dan fluktuasi harga komoditas, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tampil dengan strategi baru yang lebih berani dan terarah. Tak ingin selamanya bergantung pada ekspor bahan mentah seperti Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS), Pemerintah Kabupaten Kutim mulai menggerakkan mesin hilirisasi dan diversifikasi sektor perkebunan sebagai poros pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Langkah nyata ini diperlihatkan dalam seremoni penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Hotel Royal Victoria, Sangatta, Selasa lalu. Hadir langsung dalam acara tersebut, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, menyaksikan penandatanganan kerja sama antara Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi dan UMKM, 13 koperasi petani sawit, serta sejumlah perusahaan besar di sektor kelapa sawit.
Namun bukan hanya seremoni, acara ini juga menjadi momen penting bagi 614 petani sawit rakyat yang resmi menerima Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Legalitas ini mencakup total lahan seluas 1.434 hektare, dan membuka pintu lebih luas bagi para petani untuk terlibat dalam program kemitraan, pelatihan, hingga akses pembiayaan.
BACA JUGA: SSMS Tunjukkan Komitmen Inovasi Sawit Berkelanjutan di PTKS 2025 Yogyakarta
“Kita tidak bisa terus-menerus mengekspor bahan mentah. Sudah saatnya Kutim mengembangkan industri hilir seperti minyak goreng, sabun, kosmetik, bahkan biodiesel dan produk farmasi,” tegas Ardiansyah dalam sambutannya dikutip InfoSAWIT dari Pemkab Kutai Timur, Jumat (18/7/2025). “Itulah yang akan membuka lapangan kerja, memberi nilai tambah, dan mendorong pendapatan daerah.”
Kutai Timur sebagai pusat produksi sawit di Kalimantan Timur dinilai punya potensi besar untuk memainkan peran lebih dari sekadar penghasil bahan mentah. Namun selama ini, sebagian besar hasil panen langsung dijual tanpa pengolahan. Bagi Bupati Ardiansyah, pola lama ini harus segera diubah.
Untuk mendukung transformasi itu, Pemkab Kutim telah menyiapkan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy sebagai pusat industri turunan kelapa sawit. Lokasinya yang strategis di bibir pantai, ditambah kesiapan infrastruktur dan kebijakan, diyakini menjadi magnet bagi investor.
“Kami permudah regulasi. Kami permudah perizinan. Kutim terbuka untuk investasi di sektor pengolahan sawit,” tambah Ardiansyah.
Namun, Kutim tidak mau menaruh semua harapan pada satu komoditas. Diversifikasi perkebunan menjadi kata kunci lain yang digaungkan dalam acara tersebut. Komoditas seperti pisang, karet, kakao, lada, nanas, dan vanila mulai disiapkan untuk naik kelas, dengan pendekatan pembinaan intensif, pelatihan keterampilan, dan penguatan koperasi.
