“Kalau harga sawit turun, petani jangan ikut jatuh. Maka kita harus mulai menumbuhkan alternatif yang kuat,” ujar Ardiansyah. Ia memberi contoh, pisang bisa diolah menjadi keripik atau tepung, sementara karet bisa dikembangkan dengan pelatihan penyadapan dan penguatan koperasi. Komoditas lainnya, seperti nanas, kakao, dan lada, juga memiliki peluang besar di pasar lokal maupun ekspor—asal ada pendampingan yang tepat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim Teguh Budi Santoso, Plt Kepala Dinas Perkebunan Iip Sumirat, para camat, kepala desa, pimpinan perusahaan sawit, serta perwakilan koperasi petani. Suasana kolaboratif terlihat dari semangat bersama untuk menciptakan ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada bahan mentah, tetapi juga pada nilai tambah dan keberlanjutan.
“Semoga penyerahan STDB dan penandatanganan MoU hari ini dapat memperkuat posisi tawar petani sawit Kutim di tengah tantangan bisnis global,” tandas Ardiansyah. (T2)
