InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan menegaskan bahwa proposal dalam program Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026 harus melampaui batas akademik dan mampu menjadi peta jalan menuju solusi nyata yang berdampak bagi industri. Fokus utama riset diarahkan pada inovasi aplikatif, peningkatan produktivitas, efisiensi, nilai tambah, serta kesejahteraan petani sawit dan pelaku usaha komoditas strategis nasional.
Penegasan tersebut disampaikan Komite Litbang BPDP, Tony Liwang, dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026, Kamis (30/4/2026), yang dihadiri InfoSAWIT.
Menurut Tony, tantangan terbesar sektor sawit, kelapa, dan kakao saat ini bukan minimnya ide riset, melainkan masih lebarnya jurang antara hasil penelitian di laboratorium dengan implementasi di tingkat industri. Karena itu, Grant Riset BPDP diharapkan mampu menjadi jembatan percepatan hilirisasi inovasi menuju tahap komersialisasi.
BACA JUGA: PALMEX Jakarta 2026 Dorong Digitalisasi dan Inovasi, Perkuat Daya Saing Industri Sawit Nasional
“Tantangan terbesar kita bukan kekurangan ide, tetapi bagaimana menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan industri. Proposal yang kami harapkan adalah riset yang siap didorong menuju komersialisasi dan memberi dampak nyata,” ungkap Tony Liwang.
Prioritaskan Solusi Aplikatif dan Dampak Industri
Tony menjelaskan, terdapat enam bidang prioritas riset BPDP, yakni energi, oleokimia dan material, pangan-pakan, kesehatan, budidaya-agronomi, serta lingkungan dan limbah. Namun, terlepas dari bidang yang dipilih, proposal wajib menjawab empat aspek utama: produktivitas, efisiensi, nilai tambah, dan dampak terhadap kesejahteraan petani.
Dalam skema penilaian, porsi terbesar yakni 40% bobot evaluasi akan diberikan pada proposal yang menunjukkan solusi aplikatif serta dampak industri yang terukur.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Kalteng Periode II-April 2026 Turun Rp.114,81 per Kg
“Reviewer kami adalah praktisi dan pakar yang memahami industri sawit, kelapa, dan kakao. Karena itu, peneliti tidak perlu terlalu panjang menjelaskan hal-hal umum. Fokuskan proposal pada masalah, solusi, inovasi, dan manfaat industrinya,” jelasnya.
Proposal Harus Ringkas, Berbasis Data, dan Original
Komite Litbang BPDP juga mengingatkan agar proposal disusun ringkas, sistematis, berbasis data, dan bukan opini. Judul penelitian harus spesifik, relevan dengan prioritas nasional, memuat unsur inovasi, serta menunjukkan kebaruan (originality).
Abstrak atau executive summary menjadi bagian yang sangat menentukan karena merupakan filter awal dalam proses review. Oleh sebab itu, peneliti diminta menyusun abstrak yang padat, jelas, menjawab unsur 5W+1H, dan menekankan aspek “bagaimana” inovasi tersebut diterapkan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Kalteng Periode II-April 2026 Dengan Tenera 100% Dipatok 3.475,29/Kg.
Selain itu, proposal idealnya tidak melebihi 20 halaman inti, di luar lampiran, agar substansi lebih mudah dinilai secara fokus.
Luaran Riset Harus Bisa Direplikasi dan Dikomersialisasikan
Tony menekankan bahwa metodologi penelitian harus jelas, terukur, dan dapat direplikasi, sehingga hasil riset memiliki validitas kuat dan bisa digunakan kembali dalam skala pengembangan.
Luaran yang diharapkan BPDP tidak terbatas pada publikasi ilmiah, melainkan bisa berupa prototype, model, dataset, teknologi fabrikasi, rekomendasi kebijakan, hingga dampak sosial-ekonomi dan lingkungan yang luas bagi masyarakat.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Gandeng ITS Kembangkan Bensin Sawit untuk Lima Tahun Kedepan
Aspek potensi komersialisasi juga menjadi perhatian utama. Proposal yang melibatkan kolaborasi multidisiplin, dukungan mitra industri, dan roadmap implementasi dinilai memiliki peluang lebih besar untuk lolos seleksi.
“Proposal grant riset yang unggul bukan sekadar memenuhi syarat akademis, tetapi harus menjadi peta jalan menuju solusi nyata yang berdampak, terukur, dan memperkuat daya saing ekosistem sawit, kelapa, dan kakao nasional,” tutup Tony. (T2)
