InfoSAWIT, SERDANG BEDAGAI — Upaya memperkuat daya saing industri sawit nasional terus bergerak dari hulu, terutama melalui pengayaan sumber daya genetik yang menjadi fondasi lahirnya varietas unggul generasi baru. Langkah strategis itu ditandai dengan pelepasan sumber daya genetik (SDG) kelapa sawit asal Tanzania dalam program pengayaan plasma nutfah nasional di Kebun Tanah Besih, Kecamatan Tebing Syahbandar, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan bertajuk “Pelepasan Sumber Daya Genetik Asal Tanzania – Pengayaan Plasma Nutfah untuk Generasi Baru Kelapa Sawit Indonesia” ini digelar oleh GAPKI bersama PT Riset Perkebunan Nusantara dan PT Socfin Indonesia, sebagai tindak lanjut riset inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan yang berfokus pada eksplorasi sumber daya genetik kelapa sawit dari berbagai negara, termasuk Tanzania. Program tersebut juga didukung pembiayaannya oleh BPDP.
Pelepasan SDG asal Tanzania dinilai menjadi tonggak penting dalam memperluas keragaman plasma nutfah kelapa sawit Indonesia. Diversitas genetik ini menjadi elemen krusial dalam pengembangan varietas yang memiliki produktivitas tinggi, lebih adaptif terhadap perubahan iklim, dan lebih tangguh menghadapi tekanan lingkungan maupun serangan hama dan penyakit.
BACA JUGA: AEP Plantations Akuisisi Pinago Utama, Perluas Portofolio Sawit Hingga 23%
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa penguatan sumber daya genetik merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan industri sawit nasional.
“Dengan hadirnya SDG baru dari Tanzania ini, kita membuka peluang besar untuk lebih memperkaya keragaman genetik yang kita miliki. Hari ini kita tidak hanya mendistribusikan sumber daya genetik, tetapi juga menatap masa depan baru produktivitas kelapa sawit Indonesia,” ungkap Eddy, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci agar pengembangan varietas sawit unggul dapat berjalan lebih cepat dan terarah, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit utama dunia yang berbasis inovasi.
BACA JUGA: CPOPC Perkuat Kerja Sama Sawit Berkelanjutan dengan Papua Nugini
“Kami memandang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset, dan mitra internasional sangat penting. Pendistribusian SDG ini bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi bagian dari upaya bersama memperkuat daya saing industri sawit Indonesia di tingkat global,” tambahnya.
Dari sisi pengawasan biosekuriti, Kepala Badan Karantina Indonesia yang diwakili Direktur Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan, Aprida Cristin, menekankan bahwa pemasukan benih sumber daya genetik dari luar negeri dilakukan melalui tahapan pengawasan ketat.
Ia menjelaskan, sebelum mendapat izin masuk dari Menteri Pertanian, benih kelapa sawit asal Tanzania tersebut telah melalui analisis risiko organisme pengganggu tumbuhan secara komprehensif, disusul rangkaian tindakan karantina mulai dari pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, hingga pembebasan.
BACA JUGA: Harga Indeks Pasar Biodiesel Mei 2026 Ditetapkan Rp14.917 per Liter
“Seluruh proses panjang ini merupakan penerapan prinsip kehati-hatian yang menjadi landasan utama karantina, guna mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, sekaligus melindungi kesehatan komoditas hayati dan kelestarian sumber daya genetik nasional,” ujar Aprida.
Sementara itu, Direktur Utama BPDP yang diwakili Direktorat Penyaluran Dana, Mohammad Alfansyah, menegaskan dukungan pendanaan riset akan terus diarahkan pada program-program strategis yang berdampak langsung terhadap penguatan industri sawit nasional.
“BPDP memiliki komitmen dalam mendukung riset inisiatif strategis. Dukungan pendanaan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi industri sawit Indonesia ke depan,” katanya.
