InfoSAWIT, JAKARTA – Pengembangan sistem integrasi sawit-sapi (SISKA) dinilai masih menghadapi tantangan mendasar, terutama dalam memastikan ketersediaan pakan bernutrisi tinggi bagi ternak produktif. Kondisi hijauan yang tumbuh di bawah tegakan sawit kerap belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sapi pada fase kritis seperti kebuntingan, laktasi, hingga masa pertumbuhan pedet yang memerlukan asupan protein dan energi dalam jumlah optimal.
Ketua CENTRAS IPB University, Prof. Nahrowi, menegaskan bahwa pemenuhan nutrisi menjadi faktor penentu keberhasilan eskalasi populasi sapi dalam ekosistem perkebunan sawit.
“Tantangan terbesar dalam peningkatan populasi sapi pada sistem integrasi sawit adalah memastikan ketersediaan nutrisi yang memadai, khususnya bagi sapi produktif yang membutuhkan protein dan energi tinggi pada fase reproduksi dan pertumbuhan,” ujar Nahrowi dalam keterangan resmi GAPENSISKA diterima InfoSAWIT, Sabtu (9/5/2026).
BACA JUGA: DPN Tekankan Produktivitas Sawit Jadi Kunci Sukses Program B50
Menurut dia, di dalam ekosistem sawit terdapat satu bahan baku strategis yang potensial dikembangkan sebagai pakan utama, yakni Bungkil Inti Sawit (BIS) atau Palm Kernel Meal (PKM). Ketersediaannya dinilai kontinu, melimpah, serta berkelanjutan seiring aktivitas industri kelapa sawit yang terus berjalan.
Namun demikian, BIS dalam bentuk mentah masih memiliki keterbatasan nutrisi. Kandungan Non-Starch Polysaccharides (NSP), khususnya ikatan β-mannan, membuat bahan ini sulit dicerna secara optimal oleh ternak monogastrik dan belum efisien dimanfaatkan pada ruminansia.
Data kajian menunjukkan kandungan mannan dalam BIS mencapai 350–380 gram/kg, jauh lebih tinggi dibandingkan bungkil kedelai (soybean meal/SBM) yang hanya berada pada kisaran 20–40 gram/kg. Tingginya kandungan komponen tersebut menjadi faktor pembatas dalam pemanfaatan BIS sebagai pakan bernilai tinggi.
BACA JUGA: GAPKI Dorong Perbaikan Sistem Kerja Harian Sawit Lewat Workshop Padu Perkasa di Bengkulu
Sebagai solusi, CENTRAS IPB mengembangkan teknologi valorisasi melalui proses fraksinasi dan hidrolisis enzimatik menggunakan enzim mananase, yang menghasilkan produk pakan baru bernama Palmofeed.
Hasil penelitian menunjukkan Palmofeed memiliki kualitas nutrisi yang lebih baik dibandingkan BIS mentah. Kandungan protein kasar Palmofeed tercatat 17,48%, lebih tinggi dari BIS mentah yang berkisar 14–16%, sementara serat kasar turun menjadi 12,28% dari sebelumnya 16%. Selain itu, tingkat kontaminasi cangkang juga turun signifikan menjadi 7,63%, jauh lebih rendah dibandingkan BIS mentah yang mencapai 15%.
“Palmofeed mampu meningkatkan nilai kecernaan in vitro hingga 33%, lebih tinggi dibanding BIS mentah yang hanya sekitar 24%. Ini membuka peluang besar bagi industri pakan berbasis sawit yang lebih efisien dan bernilai ekonomi tinggi,” jelas Nahrowi.
BACA JUGA: PalmCo Optimalkan Limbah Sawit Jadi Energi, Tekan Konsumsi Solar Hingga Jutaan Liter
Efektivitas Palmofeed juga terlihat dalam uji coba pada ayam broiler selama 35 hari. Penggunaan Palmofeed hingga level 12,5% yang dikombinasikan dengan enzim mananase menghasilkan Feed Conversion Ratio (FCR) 1,95, lebih efisien dibandingkan ransum basal yang berada di level 2,08.
Dari sisi keekonomian, formulasi pakan berbasis sawit juga menawarkan efisiensi biaya yang kompetitif. Biaya per unit protein pakan sawit tercatat sekitar Rp218,75 per persen protein kasar, jauh lebih murah dibandingkan jagung yang mencapai Rp675,44, maupun bekatul sekitar Rp333,67 per persen protein kasar.
Melihat potensi tersebut, Nahrowi menilai pembangunan industri pakan atau feed mill terintegrasi di kawasan perkebunan sawit menjadi kebutuhan mendesak guna memperkuat ekosistem SISKA nasional.
BACA JUGA: Pelatihan GAP CPOPC Tingkatkan Kompetensi Petani Sawit, Dorong Produktivitas dan Keberlanjutan
“Transformasi dari pola pemberian bahan mentah menuju sistem pakan presisi harus segera dilakukan. Tanpa industri pakan lokal yang terintegrasi, konsistensi kualitas nutrisi dan stabilitas suplai pakan akan tetap menjadi hambatan utama pengembangan integrasi sawit-sapi,” pungkasnya.
Dengan inovasi Palmofeed, industri sawit dinilai tidak hanya menghasilkan minyak nabati, tetapi juga berpotensi menjadi fondasi pengembangan pakan ternak berkelanjutan yang mampu memperkuat ketahanan pangan nasional melalui integrasi sawit, pakan, dan peternakan. (T2)
