InfoSAWIT, PEKANBARU — Dalam rangka merespons lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, melakukan kunjungan kerja sekaligus memimpin koordinasi lintas lembaga dan sektor di wilayah terdampak, Rabu (30/7/2025).
Langkah cepat dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari BNPB, BMKG, TNI, Polri, Pemerintah Provinsi Riau, serta pemerintah kabupaten/kota, untuk menyusun strategi bersama dalam mengatasi kebakaran yang kian mengancam kualitas udara dan ekosistem gambut.
Namun yang menjadi sorotan utama, Menteri Hanif menegaskan pentingnya keterlibatan aktif dunia usaha dalam penanggulangan karhutla. Ia menyebut tanggung jawab tersebut bukan lagi sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan sudah menjadi kewajiban yang melekat pada izin konsesi yang mereka miliki.
BACA JUGA: Ekspor Sawit Dongkrak Surplus Dagang Semester I 2025, CPO Tumbuh Hampir 25 Persen
“Dalam situasi krisis iklim dan memburuknya kualitas udara akibat kebakaran lahan, keterlibatan dunia usaha bukan lagi partisipasi sosial, melainkan tanggung jawab penuh,” tegas Menteri Hanif, dalam keterangan resmi dikutip InfoSAWIT, Senin (4/8/2025).
Perusahaan-perusahaan besar seperti PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), Sinar Mas Group, Pertamina Hulu Rokan, dan PTPN IV Regional III pun langsung dikerahkan untuk mengambil bagian dalam aksi penanggulangan. Menteri Hanif bahkan mengorkestrasi koordinasi langsung agar seluruh upaya berjalan terintegrasi dan efektif.
Menurutnya, pendekatan reaktif ketika api sudah membesar harus diubah menjadi mitigasi proaktif. Ia mengingatkan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif dan bertanggung jawab.
BACA JUGA: Perlindungan Sosial untuk Pekerja Sawit Pasaman, 1.850 Orang Masuk BPJS Ketenagakerjaan
“Dunia usaha harus berada di garis depan, bukan hanya sebagai pelaku ekonomi tetapi juga penjaga lingkungan. Kita tidak bisa menunggu api membesar baru bertindak,” kata Hanif dalam arahannya.
Sebagai respons nyata, sejumlah langkah telah dijalankan. RAPP dan Sinar Mas Group telah memasang rambu larangan membakar di area rawan, mengaktifkan program Masyarakat Peduli Api, dan mengerahkan armada helikopter water bombing untuk pemadaman dini. Di Rokan Hulu, patroli darat dan pengawasan berbasis komunitas juga diperkuat.
