InfoSAWIT, JAKARTA – Di balik hamparan hijau perkebunan sawit Kalimantan, Johan Sukardi memainkan peran yang tak banyak terlihat, meredam konflik, merajut kepercayaan, dan membangun harmoni sosial antara perusahaan dan masyarakat. Melalui pendekatan manusiawi dan diplomasi senyap, ia membuktikan bahwa keberlanjutan tak cukup hanya soal pohon—tetapi juga soal hubungan antar manusia.
Di suatu sore yang terik kala itu di Kalimantan, Johan Sukardi duduk bersandar di pos pantau keamanan kebun. Di depannya, hamparan pohon kelapa sawit berbaris rapi sejauh mata memandang. Namun benaknya tak sedang memikirkan panen hari itu. Ia sedang memikirkan seorang pemuda yang ditangkap kemarin karena mencuri buah sawit. “Dia bukan kriminal,” ujarnya lirih, “dia lapar.”
Johan bukan polisi, bukan pula aparat desa. Ia adalah Corporate Affair Director PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), namun lebih dari itu, ia adalah jembatan antara perusahaan dan masyarakat di sekitar kebun. Di pundaknya, tertumpu harapan untuk meredam konflik, menyambung silaturahmi, dan memelihara keberlanjutan—bukan hanya pohon sawit, tapi juga kepercayaan sosial.
BACA JUGA: Berikut Upaya Kolombia Reduksi Jejak Karbon dari Kelapa Sawit
Ketika Keamanan Tak Lagi Cukup
“Dulu, kalau ada yang mencuri, langsung diserahkan ke polisi. Selesai urusan,” kenang Johan saat berbincang dengan InfoSAWIT, belum lama ini. Namun pendekatan itu, katanya, hanya menyapu debu di permukaan. Masalah yang sesungguhnya tetap mengendap.
Kini, Johan dan timnya menerapkan pendekatan sosial yang lebih manusiawi. Mereka memeriksa latar belakang pelaku, mendatangi rumahnya, berdiskusi dengan tokoh masyarakat, dan sering kali menemukan akar persoalan yang jauh lebih dalam, yakni kemiskinan, pengangguran, dan hilangnya akses terhadap lahan.
“Kalau mereka mencuri karena perut, maka tugas kita bukan menghukum, tapi membuka jalan agar mereka bisa makan dengan layak,” ujar Johan. Salah satu caranya adalah mengajak keluarga pelaku ikut dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis program Tanggung Jawab Perusahaan (CSR). Bisa berupa pelatihan, bantuan bibit, atau kemitraan usaha kecil menjadi jalan keluar yang ditawarkan. (T2)
