InfoSAWIT, ACEH – Perkebunan kelapa sawit tidak hanya menjadi komoditas unggulan nasional, tetapi juga tulang punggung penghidupan masyarakat di berbagai daerah. Menyadari peran strategis itu, IPB Training bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan IX, X, dan XVII di Aceh pada 19–23 Agustus 2025.
Peserta berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, dua daerah yang selama ini menjadi sentra penting produksi sawit di Aceh.
Dalam pembukaan kegiatan, sejumlah pejabat menegaskan bahwa sawit memiliki peran besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, komoditas ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja baru.
BACA JUGA: Ekspor Sawit Juni 2025 Naik Hampir 29%, Ditopang Lonjakan Permintaan China dan India
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Baginda Siagian, menegaskan melalui sambungan daring bahwa penguatan kapasitas SDM sawit menjadi kunci keberhasilan program ketahanan pangan nasional. “Peningkatan kompetensi petani sawit pada akhirnya akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Inilah tujuan utama program ini,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (24/8/2025).
Pelatihan ini tidak sekadar membekali peserta dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang pentingnya praktik budidaya yang berkelanjutan. Dengan demikian, perkebunan sawit dapat terus memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan, sekaligus menjamin kesejahteraan jangka panjang bagi generasi mendatang.
Para peserta didorong menjadi agen perubahan di daerah masing-masing—membawa ilmu baru yang dapat ditularkan kepada kelompok tani, rekan kerja, dan komunitas desa.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode III-Agustus 2025 Naik Rp. 25,02 per Kg
Keberhasilan sawit, ditegaskan dalam kegiatan ini, tidak hanya diukur dari produktivitas panen, melainkan juga dari kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
N.M. Apuk Ismane dari BPPSDMP Kementerian Pertanian menambahkan, penguatan SDM sawit di daerah penghasil utama harus terus digencarkan. “Aceh punya modal besar untuk menjadi role model pengembangan SDM sawit di Indonesia,” katanya.
Pelatihan yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemerintah daerah ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang bisa direplikasi di wilayah lain. Dengan begitu, Aceh bukan hanya meningkatkan kualitas SDM sawit lokal, tetapi juga memberi inspirasi bagi pembangunan perkebunan berkelanjutan di tingkat nasional. (T2)
