InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia kembali mencatat kinerja impresif pada Juni 2025. Berdasarkan laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor produk sawit meningkat signifikan ke sejumlah negara tujuan utama.
China menjadi penyerap terbesar dengan tambahan ekspor sebesar 283 ribu ton, disusul India (224 ribu ton), Afrika (125 ribu ton), Pakistan (69 ribu ton), Rusia (65 ribu ton), Amerika Serikat (58 ribu ton), Bangladesh (47 ribu ton), Malaysia (39 ribu ton), serta Uni Eropa (EU-27) sebesar 10 ribu ton.
Dari sisi nilai, ekspor sawit bulan Juni tercatat US$ 3,64 miliar, naik 28,84% dibanding Mei yang sebesar US$ 2,82 miliar. “Nilai ekspor produk sawit bulan Juni mengalami kenaikan signifikan, baik karena volume yang lebih tinggi maupun harga rata-rata yang lebih kuat,” ujar Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Minggu (24/8/2025).
BACA JUGA: UMKM Binaan Sinar Mas Warnai HUT ke-6 IJTI Kalbar, Dari Produk Lele hingga Anyaman Lidi Sawit
Secara tahunan (YoY), kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan kokoh. Hingga Juni 2025, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai US$ 17,28 miliar, atau naik 34,64% dibanding periode sama 2024 yang tercatat US$ 12,83 miliar.
GAPKI mencatat, kenaikan nilai ekspor tidak hanya didorong volume, tetapi juga harga rata-rata yang lebih tinggi. Rata-rata harga Januari–Juni 2025 berada di level US$ 1.180/ton Cif Rotterdam, meningkat dibanding periode sama 2024 yang hanya US$ 1.000/ton.
Dari sisi stok, GAPKI melaporkan awal Juni tersedia 2,92 juta ton. Dengan tambahan produksi CPO dan PKO sebesar 5,29 juta ton, konsumsi domestik yang naik menjadi 2,07 juta ton, serta ekspor mencapai 3,61 juta ton, maka stok akhir Juni turun menjadi 2,53 juta ton.
BACA JUGA: Kalteng Genjot Pendataan Sawit Rakyat untuk Wujudkan Tata Kelola Berkelanjutan
Lonjakan ekspor di tengah peningkatan konsumsi domestik dan penurunan stok ini menunjukkan tingginya permintaan global terhadap minyak sawit Indonesia, sekaligus memperkuat peran strategis komoditas ini dalam menjaga devisa negara. (T2)
