Hasil Riset: Petani Sawit Swadaya Terancam Tersisih dari Pasar Sawit Berkelanjutan

oleh -2.184 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. SawitFest 2021/foto: Fitra Yogi/Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA — Persyaratan keberlanjutan yang semakin ketat dalam rantai pasok global berpotensi menyingkirkan petani sawit swadaya dari akses ke pasar yang lebih menguntungkan. Sebuah riset terbaru mengenai pabrik kelapa sawit bersertifikat di Indonesia mengungkapkan bahwa petani independen masih minim keterlibatan dalam rantai pasok berkelanjutan, meski kontribusinya terhadap produksi regional cukup besar.

Hasil penelitian menunjukkan, petani sawit swadaya menyumbang sekitar sepertiga produksi sawit di wilayah kajian. Namun, suplai mereka hanya tercatat 7% di pabrik sawit bersertifikat. Sebaliknya, petani dengan pola kemitraan atau kontrak eksklusif justru mendominasi aliran bahan baku ke pabrik tersebut.

“Kami tidak menemukan bukti adanya pengucilan aktif, misalnya pabrik menolak langsung hasil kebun swadaya. Yang terjadi adalah exclusion pasif, di mana sebagian besar pabrik bersertifikat memang tidak pernah membeli dari petani sawit swadaya,” ungkap laporan berjudul “Uneven participation of independent and contract smallholders in certified palm oil mill markets in Indonesia”, ditulis Andini Desita Ekaputri, David L. A. Gaveau, Robert Heilmayr dan Kimberly M. Carlson, dikutip InfoSAWIT dari Nature.com, Kamis (18/9/2025).

BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Sentuh Level Tertinggi dalam Lebih dari Satu Tahun

Data yang dihimpun memperlihatkan hanya 36% pabrik bersertifikat yang pernah membeli tandan buah segar (TBS) dari petani sawit swadaya. Lahan petani sawit swadaya pun lebih jarang ditemukan di sekitar pabrik bersertifikat, yakni sekitar 29–38% dari total areal, dibandingkan dengan 41–42% di sekitar pabrik non-sertifikat. Kondisi ini menunjukkan keterbatasan akses struktural bagi petani kecil.

Di sisi lain, industri sawit berkelanjutan kini menjadi tuntutan pasar internasional. Uni Eropa, misalnya, melalui EU Deforestation Regulation (EUDR), mewajibkan produk sawit bebas deforestasi dan dapat ditelusuri asal usulnya. Sertifikasi berkelanjutan seperti RSPO maupun ISPO pun diposisikan sebagai instrumen penting menjaga daya saing sawit Indonesia di pasar global.

Namun, tanpa dukungan nyata, petani sawit kecil sulit memenuhi standar yang ditetapkan. Sebagian besar terkendala dalam aspek legalitas lahan, kapasitas teknis budidaya, hingga biaya sertifikasi. Sementara itu, pembeli di hilir cenderung memilih pemasok yang dianggap lebih stabil dan minim risiko, seperti perkebunan besar atau petani plasma.

BACA JUGA: 90 Proposal Lolos Tahap Presentasi Grant Riset Sawit 2025

“Petani kecil adalah tulang punggung industri pangan global, terutama di kawasan tropis. Mereka menyumbang lebih dari 70% pasokan kalori dunia. Mengabaikan mereka dalam rantai pasok berkelanjutan berarti meleset dari tujuan besar, menyeimbangkan perlindungan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan,” tulis riset tersebut.

Para peneliti menekankan perlunya skema tata kelola rantai pasok yang lebih inklusif. Program sertifikasi maupun komitmen nol deforestasi seharusnya tidak berhenti pada persyaratan teknis, tetapi juga mendorong aktor-aktor dalam rantai pasok untuk menjembatani keterlibatan petani kecil. Misalnya, lewat program pendampingan, fasilitasi legalitas lahan, hingga penyediaan insentif bagi pabrik untuk membeli hasil kebun independen.

Tanpa langkah itu, upaya menuju sawit berkelanjutan justru bisa memperlebar kesenjangan. Di satu sisi, perusahaan besar berhasil menembus pasar premium, sementara petani kecil kian terpinggirkan. Padahal, inklusi petani kecil bukan hanya soal keadilan sosial, melainkan juga kunci keberlangsungan industri sawit Indonesia ke depan. (T2)

 

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com